Rabu, 29 Juli 2009

Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada iklan Rokok Terhadap Masyarakat Di Desa Made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebiasaan menghisap tembakau telah dikenal sejak lama di muka bumi ini. Kaum Indian di Amerika Utara sejak dulu dikenal menggunakan sebagai pipa perdamaianyang sering ditemukan pada buku-buku cerita Indian, hanya saja harus diingat bahwa mereka biasanya menghisap pipa hanya pada kesempatan khusus, tidak dilakukan setiap hari seperti biasanya orang merokok sekarang ini. Kebiasaan menghisap rokok kemudian terus berkembang lua, khususnya setelah berkembangnya industri modern rokok di awal abad ini. Sekitar setengah dari kaum pria dari negara berkembang juga punya kebiasaan yang sama. Jumlah perokok dikalangan wanita di negara maju sedikit lebih rendah daripada kaum prianya, sementara di negara berkembang diperkirakan 10% wanita merokok. Seiring perkembangan jaman diciptakanlah berbagai macam rokok dengan berbagai merk yang telah diproduksi oleh pabrik-pabrik di Negara Indonesia. Sebagian kaum lelaki mengkonsumsi rokok tersebut
SEBAGAI satu-satunya racun yang bebas diperjualbelikan, bahkan bebas dipromosikan, tentu tidak aneh jika sejak dulu perdagangan rokok jauh lebih menguntungkan daripada perdagangan emas dan perak. Sejalan dengan gencarnya kampanye antirokok, mulai banyak para perokok yang menyadari bahaya kesehatan akibat kebiasaan merokok. Namun, kesadaran bahaya merokok tersebut tidak lantas membuat para perokok memutuskan untuk berhenti merokok. Faktor ketagihan nikotin pun turut memengaruhi terganggunya rasionalitas para perokok tersebut. Keadaan ini tergambarkan pada penelitian yang dilakukan oleh James Mahoney dan Amanda Burrell dari Universitas Canberra (UC) Australia terhadap 234 orang mahasiswa. Hasil penelitian menujukkan, setiap mahasiswa yang disurvei tahu merokok akan membahayakan kesehatan mereka, mengaku mengingat isi pesan kampanye antirokok yang selama ini ada, namun tidak cukup menyadarkan mereka untuk menghentikan kebiasaan merokok tersebut.
Mereka memandang taktik kampanye dengan menakut-nakuti tidaklah efektif. Kondisi ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh industri rokok. Mereka sangat memahami sifat ketagihan rokok dan "kegelisahan" para perokok terhadap isu kesehatan yang ada dibalik kebiasaan tersebut. Industri rokok membuat sebuah terobosan dengan menciptakan produk rokok ringan (mild, light, ultralight cigarette).
Pada tanggal 10 Maret 2003, Pemerintah mengeluarkan PP No.19/2003 ini. LSM protes keras karena batas maksimum tar dalam nikotin dihilangkan. Disisi lain, PP No.19/2003 mengatur ketentuan antara "tempat merokok" dan "tempat tidak merokok", yang diberlakukan di setiap tempat publik, fasilitas kesehatan, tempat kerja, sekolah, tempat main, bangunan agama dan transportasi publik. Hak merokok tetap dijaga dengan mewajibkan manajemen publik atau kerja untuk menyediakan tempat khusus untuk merokok dengan "exhaust" atau fasilitas lain yang dapat tidak mengganggu kesehatan yang tidak merokok.

Upaya untuk menyadarkan para pecandu rokok supaya meninggalkan kebiasaan buruknya memang tak mudah. Banyak hal telah dilakukan, mulai dari kampanye bahaya rokok bagi kesehatan hingga penerapan aturan tentang pencantuman peringatan tertulis bahayanya di kemasan.
Bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan, sebetulnya telah diketahui sejakdahulu. Penelitian para ahli membuktikan, merokok merupakan faktor risiko utama penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah. Hal ini lebih ditegaskan dalam World Congress ISFC pada bulan September 1986, yang menyatakan : merokok mengakibatkan penyakit jantung dan pembuluh darah juga menyebabkan kanker paru dan pernapasan. Selain itu berpengaruh besar terhadap sistem saraf, dan orang-orang yang berada di sekitar perokok (passive smoker) memiliki dampak risiko besar pula terhadap penyakit jantung.
Penghasilan suatu negara dari pajak rokok memang besar, namun perbandingannya tak dapat disamakan dengan pengeluaran dana atas akibat yang ditimbulkan rokok, Itu sebabnya terutama di luar negeri, ada peraturan pencantuman peringatan bahaya merokok pada setiap bungkus rokok.
Tempat-tempat untuk merokok pun telah dibatasi atau dipisahkan tersendiri. Banyak perusahaan membuat peraturan bagi para pegawainya, karena ternyata waktu bolos atau absen para perokok lebih besar daripada yang tidak merokok. Di Amerika, banyak pusat-pusat pertokoan melarang pengunjung merokok. Di restoran, pemisahan tempat perokok dengan tidak perokok sudah lumrah. Demikian pula di pesawat terbang dan kendaran lainnya.
Dengan mengiklankan produk yang ringan, industri mengarahkan para konsumen kepada keyakinan yang keliru atas keselamatan perokok. Padahal pada kenyataannya, perokok memanjakan diri mereka pada pengaruh negatif yang sama sebagaimana bila mereka menghisap rokok biasa. Kondisi ini sebenarnya sudah diatur dalam Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Ada aturan dalam FCTC yang menyebutkan bahwa bungkus rokok harus mencantumkan secara jelas bahaya merokok dan kandungan berbahaya lainnya. Pencantuman istilah ringan, mild, light, ultralight ciggarette tidak boleh digunakan lagi, karena istilah tersebut sangat menyesatkan, mengandung arti bahwa rokok jenis ini lebih sehat.
Di Inggris, upaya menyadarkan perokok dan mencegah bertambahnya perokok baru terus dilakukan. Belum lama ini, Pemerintah Inggris menerapkan suatu kebijakan yang cukup revolusioner, yakni mewajibkan para produsen rokok mencantumkan gambar-gambar mengerikan akibat dampak merokok di setiap kemasan.
Pemuatan gambar-gambar mengerikan di kemasan rokok itu telah dimulai sejak pekan ini. Departemen Kesehatan Inggris mengharapkan langkah ini akan membuat para perokok mengubah pendiriannya dan menyadarkan mereka betapa mengerikan akibat yang ditimbulkan rokok.
Sekurangya, 11 gambar telah didesain untuk dimuat di setiap kemasan rokok dan salah satu yang paling mengerikan adalah gambar seorang penderita kanker tenggorokan dengan tumor besar yang membelit lehernya.
Depkes Inggris menyatakan, kampanye akan bahaya rokok melalui tulisan saja setidaknya telah membuat sekitar 90.000 perokok di Inggris menelepon posko bantuan untuk mengatasi rokok. Dengan strategi baru ini, Kepala Bagian Medis Sir Liam Donaldson berharap akan semakin banyak lagi perokok yang sadar.
Meskipun banyak sekali dampak yang membahayakan bagi pecandu rokok akan tetapi para pecandu rokok tidaklah jera, padahal di bungkus rokok atau di iklan-iklan rokok sudah disebutkan bahwa “merokok dapat menyebabkan kanker, jantung, impoten gangguan kehamilan dan janin” akan tetapi tulisan tersebut tidak pernah dihiraukan oleh pecandu rokok pada saat ini. Menurut psikolog Seto Mulyadi, peringatan bahaya merokok dalam bentuk tulisan tidak ada artinya dibandingkan dengan gambar. Menurutnya, peringatan tulisan kurang efektif memberikan persepsi mengenai bahaya merokok. Di Indonesia, peringatan kesehatan berbentuk tulisan dan penempatannya di belakang bungkus rokok. Sedangkan di Singapura menggunakan gambar disertai tulisan, dan besarnya setengah dari bungkus rokok. ''Pemerintah perlu mengatur kembali bentuk peringatan kesehatan di semua kemasan produk tembakau, termasuk bungkus rokok.
Oleh karena itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang efektif tidaknya pencantuman bahaya merokok yang ada pada iklan rokok, baik dari iklan media cetak maupun iklan audiovisual, karena meskipun pada bungkus rokok sudah diberi peringatan kras untuk tidak mengkonsumsi rokok akan tetapi pecandu rokok tetap saj “bandel” untuk menghisap batang rokok, padahal menurut survei, satu batang rokok bisa menhilangkan nyawa 6,5 detik waktu kita d dunia ini. Disini peneliti mengambil judul “ Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada iklan Rokok Terhadap Masyarakat Di Desa Made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan. Alasan peneliti memilih judul ini adalah peneliti ingin sekali mengetahui seberapa banyak para pecandu rokok menaati peringatan pemerintah yang ditulis dalam bungkus rokok atau yang dicantumnkan di setiap iklan rokok.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada iklan Rokok Terhadap Masyarakat Di Desa Made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan?
2. Dampak yang di hasilkan dalam pencantuman bahaya merokok pada iklan rokok?
3. Apakah para pecandu rokok bisa berhenti merokok setelah ada peringatan pemerintah dalam bungkus rokok?


1.3 Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk mengetahui sejauh mana masyarakat mematuhi peringatan pemerintah yang tercantum dalam bungkus rokok dan penulis juga ingin mengetahui sejauh mana pengaruh yang dihasilkan dalm pencantuman bahaya merokok pada iklan rokok tersebut. Selain itu penyusunan proposal ini juga bertujuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang berupa teori-teori yang selama ini didapatkan, sehingga dapat mengetahui sampai dimana teori-teori itu mampu dan bisa mngatasi permasalahan yang ada. Adapun pokok-pokok dari tujuan penelitian ini adalah:
1. untuk meneliti apakah pencantuman label bahaya merokok dapat berpengaruh pada masyarakat Desa Made RT 01 / RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan.
2. untuk mengetahui dan meneliti dampak yang dihasilkan dari pencantuman bahaya merokok pada iklan rokok
3. untuk mengetahui apakah para pecandu rokok bisa berhenti merokok setelah ada peringatan pemerintah dalam bungkus rokok
1.4 Manfaat penelitian
1. Untuk memberikan informasi kepada para pembaca apakah pencantuman label bahaya merokok dapat berpengaruh pada masyarakat Desa Made RT 01 / RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan.
2. Untuk memberikan informasi tentang bahaya merokok untuk kesehatan.









BAB II
KERANGKA TEORI

Penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran yakni teori Use and gratifications and dependency dan teori peniruan, kerangka pemikiran ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam penelitian ini, karena di dalamnya memiliki tendensi-tendensi pemikiran yang kuat untuk menganalisis penelitian ini untuk lebih jelasnya, akan kami bahas mengenai kerangka pemikiran tersebut, sebagai berikut:
Prinsip stimulus respon pada dasrnya merupakan prinsip belajar yangs edrhana, dimana efek merupakan reaksi terhadap stimulus tertentu. Dengan demikian seorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audiens. Elemen-elemen utama dari teori ini adalah
a. pesan/ stimulus
b. receiver/ penerima
c. efek/ respon
Prinsip stimulus seprti ini merupakan dasar teori jarum suntik hipodermik. Teori klasik proses terjadinya efek media massa yang sangat berpengaruh. Dalam teori ini isi media dipandang sebagai obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh audiens, yang kemudian diasumskan akan bereaksi seperti yang diharapkan.
Dibalik konsepsi ini sesungguhnya terdapat dua pemikiran yang mendasarinya:
1. Gambaran mengenai masyarakat modern yang merupakan agregasi dari individu-individu yang relative terisolasi yang bertindak berdasrkan kepentingan pribadi, yang tidak berpengaruh oleh kendala dan ikatan sosial.
2. Suatu pandangan dominan mengenai media massa yang seolah-olah sedang melakukan kampanye untuk memobilisasi perilaki sesuai dengan tujuan dari berbagai kekuatanb yang ada dalam masyarakat.
Dari pemikiran tersebut, dikenal apa disebut “masyarakat massa” dimana prinsip stimulus-respon mengasumsikan bahwa pesan dipersiapkan da di distribusikan secara sistemik dan dalam skala yang luas. Sehingga secara serempak pesan tersebut dapat bersedia bagi sebagian besar individu, dan bukanya ditujukan pada orang per orang.penggunaan teknologi untuk reproduksi dan distribusi dapat memaksimalkan jumlah penerimaan dan respon oleh audiens. Dalam hal ini tidak diperhitungkan kemungkinan adanya intervensi adri struktur sosial atau kelompok dan seolah-olah terdapat kontak langsung antara media dan individu.

Uses, Gratifications and Depedency
Salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan sering digunakan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002 : 388).
Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain. Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002 : 387). Kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas keseharian (McQuail, 2002 : 387).
Dewasa ini iklan rokok sangat berkembang pesat, apalagi dari sekian banyak iklan di media cetak maupun elektronik iklan rokok adalah termasuk dalam iklan yang paling bergengsi. Sangat kreatif dan imajinatif, sehingga dapat menyaingi iklan-iklan lainnya.

Teori Peniruan (modeling theories)
Hampir sama dengan teori identifikasi, memandang manusia sebagai makhluk yang selalu mengembangkan kemampuan afektifnya. Tetapi, berbeda dengan teori identifikasi, teori peniruan menekankan orientasi eksternal dalam pencarian gratifikasi. Disini, individu dipandang secara otomatis cenderung berempati dengan perasaan orang-orang yang diamatinya dan meniru perilakunya
Misalnya pada penelitian ini orang-orang atau konsumen rokok ketika melihat iklan rokok di televisi mereka akan merasa tertarik, karena kebanyakan iklan rokok biasanya menarik perhatian konsumennya akan tetapi biasanya tidak langsung terfokus pada rokoknya akan tetapi pada hal-hal yang konyol atau dengan perbendaharaan bahasa yang baru. Ketika orang melihat tayangan tersebut orang akan menirukan atau mengembangkan perbendaharaan bahasa tersebut secara meluas dengan kata lain iklan tersebut terpatri di pikiran pendengar atau masyarakat.
Pada tahun 1970, melvin Defleur melakukan nodifikasi terhadap teori stimulus respon dengan teorinya yang dikenla sebagai perbedaan individu dalam komunikasi massa. Disini diasumsikan bahwa pesan-pesan media berisi stimulus tertentu yang berinteraksi secara berbeda-beda dengan karakteristik pribadi dari para anggota audience.
Adapun iklan pencantuman bahya roko dikaitkan dengan Teori SOR yang mana sasaran dari penelitian ini adalah pecandu rokok. Maka dapat dikatakan bahwa iklan pencantuman bahya merokok merupakan stimulus yang nantinya akan diterima oleh audience yang mana dalam hal ini adalah orang dewasa yang mnegkonsumsi rokok dan kemudian baru memunculkan respon. Responnya dalah pecandu rokok menaati pencantuman bahaya merokok atau tidak menaati iklan pencantuman bahaya merokok pada iklan.












Hipotesis
Hipotesis 1 (+)
Dugaan sementara yang bersifat mendukung dalam penelitian ini adalah adanya Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada iklan Rokok Terhadap Masyarakat Di Desa Made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan

Hipotesis 0 (-)
Dugaan sementara yang bersifat mendukung dalam penelitian ini adalah tidak adanya Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada iklan Rokok Terhadap Masyarakat Di Desa Made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan
















BAB III
METODOLOGI

3.1 Desain penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptis yaitu suatu jenis penelitian yang hanya akan meluruskan keadaan obyek persoalan dan tidak dimaksudkan untuk mengambil kesimpulan yang berlaku umum
Menurut pendapat Sanapiah Faisal :
“Penelitian Deskriptif adalah ekslorasi dan klasifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan social dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variable dengan masalah dan unit yang diteliti.”
(Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, 1989:20)
Penelitian ini menitik beratkan kepada dua variable: “Variabel pengaruh pencantuman bahaya merokok pada iklan rokok terhadap masyarakat di desa made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan”
3.2 Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Made RT 01/ RW 01, Kecamatan Lamongan, Kabupaten dan dilakukan mulai tanggal 30 april 2009 sampai 07 juli 2009.
3.3 Kerangka Konseptual
Adalah konsep dan variabel dari Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada Iklan Rokok Terhadap Image Brand Perusahaan.


3.1.1 Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok Pada Iklan Rokok (X)
3.1.1.1 Pencantuman
Merupakan pelabelan atau penulisan pada suatu media yang akan diketahui oleh beberapa khalayak.
3.1.1.2 Bahaya
Merupakan kosa kata yang negatif, atau dampak yang terjadi yang ada pada sesuatu benda atau barang.
3.1.1.3 Merokok
Merupakan kegiatan menggunakan, menghirup atau menghisap dan sekaligus menikamti sesuatu benda atau barang silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain.
3.1.1.4 Iklan
Merupakan sarana bagi upaya menawarkan barang atau jasa kepada khalayak ramai. Dalam pengertian lain iklan adalah penyampaian untuk mempersuasi khalayak sasarn teryentu untuk menerima produk, jasa atau gagasan dengan mengeluarkan biaya untuk ruang dan waktu dalam bentuk yang tertentu(cf. Jamieson dan Campbell 1983:136-138)
3.1.1.5 Rokok
Merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mmm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung(walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).

3.1.2 Terhadap Masyarakat (Y)

3.1.2.1 Masyarakat
Banyak para ahli telah memberikan pengertian tentang masyarakat. Smith, Stanley dan Shores mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentatang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda. (Smith, Stanley, Shores, 1950, p. 5).
Masyarakat merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya adalah society , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab Syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi. Ada beberapa pengertian masyarakat :
a. Menurut (Selo Sumarjan 1974) masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan
b. Menurut (Koentjaraningrat 1994) masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama.
c. Menurut (Ralph Linton 1968) masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.
Ada beberapa komponen masyarakat diantaranya :
a. Populasi dengan aspek-aspek genetik dan demografik
b. Kebudayaan sebagai produk dari aktivitas cipta rasa, karsa dan karya manusia. Isi kebudayaan meliputi beberapa sistem nilai, yaitu sistem peralatan (teknologi), ekonomi, organisasi, ilmu pengetahuan, kesenian, dan kepercayaan sistem bahasa.
Masyarakat tidak begitu saja muncul seperti sekarang ini, tetapi adanya perkembangan yang dimulai dari masa lampau sampai saat sekarang ini dan terdapat masyarakat yang mewakili masa tersebut. Masyarakat ini kemudian berkembang mengikuti perkembangan jaman sehingga kemajuan yang dimiliki masyarakat sejalan dengan perubahan yan terjadi secara global, tetapi ada pula masyarakat yang berkembang tidak seperti mengikuti perubahan jaman melainkan berubah sesuai dengan konsep mereka tentang perubahan itu sendiri.
Dalam mempertahankan kehidupannnya masyarakat beradaptasi dengan
lingkungannya. Adapun adaptasi tersebut dibedakan sebagai berikut :
a. Adaptasi genetik; setiap lingkungan hidup biasanya merangsang penghuninya untuk membentuk struktur tubuh yang spesifik, yang bersifat turun temurun dan permanen
b. Adaptasi somatis yang merupakan penyesuaian secara struktural atau fungsional yang sifatnya sementara (tidak turun temurun). Bila dibandingkan dengan makhluk lainnya, maka manusia mempunyai daya adaptasi yang relatif lebih besar.


3.2 Kerangka Operasional
Untuk memperjelas ruang lingkup penelitian disini kita akan membatasi konsep operasional yang di gunakan dan berikut adalah kategori atau indikatornya:
3.2.1 Pencantuman Bahaya Merokok Pada Iklan Rokok =
1. Pengertian merokok
2. Frekuensi mengkonsumsi rokok per hari
3. Perilaku orang yang terpengaruh dengan pencantuman bahaya merokok pada iklan media cetak ataupun elektronik
4. Perilaku seseorang ketika terpengaruh terhadap label bahaya merokok

3.2.2 Image Brand Perusahaan=
1. Tindakan yang dilakukan oleh perusahaan.
2. Peran humas perusahaan
3. Pengawasan humas terhadap wacana masyarakat tentang produk
4. Cara menjaga image perusahaan dimata masyarakat.


3.3. Teknik Sampling
Penelitan ini menggunakan teknik sampling :
Sample sistematis ( Systematic Sampling )
Sampel sistematis adalah pengambilan sampel dimana hanya unsure pertama saja dari sampel dipilih secara acak, sedangkan unsure – unsure selanjutnya dipilih secara sistematis menurut pola tertentu.
Adapun cara yang digunakan dalam sampel sistematis adalah :
Jumlah populasi ( N ) 150 orang yang diberi nomor 1 – 150 dan akan dipilih 50 satuan elementer sebagai sampel ( n ). Hasil bagi tersebut disebut interval sampel dan diberi kode k.
k = N : n
k = 150 : 50 = 3
Unsure pertama dari sampel harus dipilih secara acak diantara satuan – satuan elementer nomor 1 – 3. Dan yang terpilih sebagai unsure pertama adalah satuan elemekter nomor 2, maka unsure – unsure lainnya dari sampel adalah satuan – satuan nomor 5, 8, 11, 14, 17, 20, 23, 26, 29, 32, 35, 38, 41, 44, 47, 50, 53, 56, 59, 62, 65, 68, 71, 74, 77, 80, 83, 86, 89, 92, 95, 98, 101, 104, 107, 110, 113, 116, 19, 122, 125, 128, 131, 134, 137, 140, 143, 146, 149, 3.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian yang menggunakan metode survai, tidaklah selalu perlu untuk meneliti semua individu dalam populasi, karena disamping memakan biaya yang sangat besar juga membutuhkan waktu yang lama. Dengan meneliti sebagaian populasi, peneliti mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh akan dapat menggambarkan sifat populasi yang bersangkutan. Untuk dapat mencapai tujuan ini, maka cara – cara pengambilan sampel harus memenuhi syarat – syarat tertentu.
Dalam menentukan metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam suatu penelitian, si peneliti harus memperhatikan hubungan antara biaya, tenaga dan waktu di satu pihak, serta besarnya presisi di pihak lain. Sebelum membicarakan pembahasan tentang metode pengambilan sampel, terlebih dahulu peneliti bicarakan tentang konsep.

POPULASI
Populasi adalah jumah keseluruhan dari unit analisa yang cirri – cirinya akan diduga. Populasi dapat dibedakan dengan populasi smpling dan populasi sasaran. Dalam setiap penelitian, populasi yang dipilih erat hubungannya dengan masalah yang ingin dipelajari.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan populasi di Kelurahan Gundih, Surabaya. Dan yang menjadi responden dalam penelitian adalah para pemirsa program music Dahsyat khususnya yang berumur 15 – 30 tahun.
SAMPEL
Dengan meneliti sebagaian dari populasi, peneliti mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh akan dapat menggambarkan sifat populasi bersangkutan. Untuk dapat mencapai tujuan ini, maka cara – cara pengambilan sebuah sampel harus memenuhi syarat – syarat tertentu.
Sebuah sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga setiap satuan elementer mempunyai kesempatan dan peluang yang sama untuk dipilih dan besarnya peluang tersebut tidak boleh sama dengan 0.
3.5 Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung melalui daftar pertanyaan secara terstruktur kepada responden yang berisi daftar pertanyaan yang ada pada kuesioner. Selain itu dalam menyebarkan kuesioner yang diajukan terdapat pertanyaan yang kurang dipahami oleh responden maka dapat dijelaskan oleh peneliti agar tidak salah dalam mengisi kuesioner.
3.6 Data Sekunder
Data yang diperoleh melalui bahan – bahan pustaka yang terkait dengan masalah – masalah yang akan diteliti. Bahan – bahan pustaka didapat dari buku – buku literature atau informasi tertulis lainnya.
3.7 Teknik pengolahan data dan analisa data
Setelah mengkode data, kegiatan yang dilakukan ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam pengolahan data adalah:
1. Memasukkan data ke dalam kartu
- Data yang telah dikode perlu dipindahkan ke dalam kartu. Cara merekam data dapat dilakukan dengan menggunakan: kartu tabulasi, komputer
2. Membuat tabel frekuensi atau tabel silang
3. Mengedit yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui setelah membaca tabel frekuensi atau tabel silang.
LANGKAH- LANGKAH ANALISIS DATA
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data , perlu segera digarap oleh staf peneliti, khususnya yang bertugas mengolah data
Secara garis besar , pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu:
1. Persiapan
Kegiatan dalam langkah persiapan ini antara lain:
 Mengecek nama dan kelengkapan identitas pengisi
 Mengecek kelengkapan data, artinya memeriksa isi instrumen pengumpulan data
 Mengecek macam isian data
Apa yang dilakukan dalam langkah persiapan ini adalah memilih atau menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal.
2. Tabulasi
G.E.R. Burroughas mengemikakan klasifikasi analisis data sebagai berikut.
1) Tabulasi Data
2) Penyimpulan data
3) Analisis data untuk tujuan testing hipotesis
4) Analisis data untuk tujuan penarikan kesimpulan
Termasuk dalam kegiatan tabulasi ini antara lain:
1. Memberikan Skor terhadap item- item yang perlu dibuat skor
2. Memberikan kode tehadap item- item yang tidak diberi skor
3. Mengubah jenis data, disesuaikan atau dimodifikasi dengan teknik analisis yang akan digunakan
4. Memberikan Kode (coding) dalam hubungan dengan pengolahan data jika akan menggunakan computer


3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian
Maksud dari bagian bab ini adalah pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus- rumus atau aturan- aturan yang ada, sesuai dengan pendekatan penelitian atau desai yang diambil.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Analisa data deskriptif Karena sesuai dengan desain penelitian yakni Deskriptif Kuantitatif dapun yang dimaksud dengan Analisa Data Deskriptif yakni Teknik statistik yang pada umumnya digunakan untuk menganalisis data pada penelitian- penelitian deskriptif ialah dengan menggunakan tabel, grafik ukuran central tendency dan ukuran perbedaan.

Analisis Data
Hasil data yang diperoleh adalah data yang bersifat kuantitatif, yaitu berupa angka-angka sehingga analisisnya menggunakan tehnik statistik. Untuk menghitung analisis regresi digunakan komputasi SPSS-2000 Program Analisis Regresi Edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Parmadiningsih, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta versi IBM/IN. Analisis Regresi digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh antara dua variabel yang diteliti yaitu pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Adapun sistematika perhitungan dengan menggunakan analisa regresi adalah sebagai berikut :
Mencari korelasi antar kriterium dengan prediktor.
Menguji korelasi apakah signifikan atau tidak.
Mencari persamaan regresi.


























Kuesioner
Pengaruh Pencantuman Bahaya Merokok pada Iklan Rokok Terhadap Masyarakat di Desa Made RT 01/ RW 01, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan

NAMA:
ALAMAT:
UMUR:
JENIS KELAMIN:
PEKERJAAN:
1. pilihlah jawaban yang tepat
2. jika tidak jelas tanyakan pada researcher
3. jangan memilih jawaban lebih dari satu


1. Apakah anda seorang perokok?
a. ya
b. tidak
c. kadang-kadang
2. Sejak kapan anda merokok?
a. Sejak kecil
b. Menginjak remaja
c. Baru saja
3. Apakah anda merasa ketagihan dengan rokok?
a. ya
b. biasa saja
c. tidak
4. Apakah anda tahu dampak negatif dari rokok?
a. ya
b. sedikit
c. tidak sama sekali
5. Apakah anda pernah membaca label bahaya merokok pada bungkus rokok?
a. Pernah, dan saya langsung menjauhi tidak mengkonsumsi rokok
b. Saya malah tidak tahu kalu ada label bahaya merokok
c. Pernah, tapi saya hiraukan
6. Apakah anda tidak merasa rugi bila uang anda habis untuk membeli rokok?
a. tidak
b. ya
c. kadang-kadang merasa rugi
7. Apakah di mata anda image perusahaan rokok itu baik-baik?
a. sangat baik
b. baik
c. tidak
8. Apakah anda suka dengan acara music konser yang diadakan oleh salah satu perusahaan rokok?
a. sangat suka
b. tidak
c. biasa saja
9. Apakah anda sering datang dan mengikuti acara-acara yang di sponsori oleh perusahaan rokok?
a. selalu datang
b. kadang-kadang
c. tidak pernah sama sekali
10. Apakah anda suka dengan fatwa MUI dengan mengharamkan merokok di tempat umum?
a. tidak suka
b. suka
c. biasa saja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong di isi