Inspiration

Loading...

Minggu, 19 Desember 2010

ISI LAPORAN MAGANG TELKOM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi komunikasi dalam beberapa waktu ini semakin berkembang pesat, apalagi diikuti dengan perkembangan telepon seluler yang semakin marak akhir-akhir ini dan juga persaingan operator telepon juga. Gaya hidup masyarakat semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman, kebanyakan masyarakat telah meninggalkan kebiasaan lamanya dalam berkomunikasi. Menyikapi perkembangan teknologi dan persaingan di industri informasi dan komunikasi dewasa ini TELKOM semakin bersaing dalam dunia komunikasi dengan menciptakan inovasi- inovasi barunya. Perkembangan komunikasi saat ini meningkat secara signifikan seiring dengan perkembangan teknologi. Dimana banyak dijumpai alat-alat komunikasi. Mulai dari surat, faximille, handy talkie, telefon, seluler, sampai internet.
Dahulu, sistem penyampaian Informasi dan berita ke tempat yang jauh dalam waktu yang relatif lama melalui surat. Karena pengiriman dilakukan secara manual. Dimana untuk mencapai tujuan harus melalui jalan darat maupun perairan. Dari satu daerah ke daerah lain dengan waktu yang relatif lama. Sehingga proses komunikasi jarak jauh saat itu membutuhkan waktu yang sangat panjang dan proses yang sangat rumit.Kemudian komunikasi berkembang lagi menjadi lebih modern dengan munculnya tekhnologi telepon yang dapat diartikan sebagai kmunikasi dalam jarak jauh karena tele artinya jarak jauh dan phone artinya komunikasi.Setelah itu dunia komunikasi berkembang ketekhnologi pager yaitu dengan meninggalkan pesan melalui operator ke pager tersebut orang yang dituju bisa melihat pesan yang ditinggalkan kemereka.
“ Setelah kita lihat bahwa perkembangan tekhnologi komunikasi sangat berkembang,otak manusia sudah semakin pintar dalam menghadapi era pasar bebas yang kompetitif yang kian menajam.maka target atau sasaran customer relations harus lebih diarahkan kepada kepentingan setisp steakholder perusahaan dan salah satunya adalah kepentingan pelanggan (customer oriented) untuk mendapatkan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) (Ruslan,2003).”
PT.Telekomunikasi Indonesia ( PT.Telkom ) adalah salah satu BUMN yang dimiliki oleh Negara. PT.Telkom merupakan BUMN yang paling menguntungkan jika dibandingkan dengan BUMN lain yang ada di Indonesia, karena PT.Telkom hampir tidak pernah mengalami kerugian. Telkom mempunyai banyak sekali Divisi yang tersebar di seluruh Indonesia. DIVRE V JATIM( Divisi Regional V Jawa Timur) merupakan salah satu Divisi yang kinerjanya sangat baik. Dalam satu Divisi juga dibagi dalam beberapa bagian. Seperti KANDATEL ( Kantor Daerah Telekomunikasi ) dan KANCATEL ( Kantor Cabang Telekomunikasi ).
KANCATEL Lamongan merupakan kantor cabang telekomunikasi satu satunya dan terbesar di kota lamongan.Letaknya yang strategis berada di jantung kota lamongan menandakan bahwa kantor ini bisa melayani masyarakat sekitarnya dengan baik.
Telkom selalu berinovasi, inovasi yang tiada henti ini membuat Telkom selalu berkembag dari tahun ke tahun. Seperti contoh inovasi yang dilakukan Telkom didalam persaingan dengan perusahaan kartu seluler serta seluler. Dengan adanya macam macam HP yang beredar dluar dan mempunyai fitur-fitur bagus lainnya,Telkom tidak kalahnya membuat suatu inovatif yang muncul dengan adanya Flexy. Dengan kegigihan perusahaan untuk memperjuangkan eksistensinya tersebut itulah mengapa penulis bersemangat melakukan suatu praktek kerja di perusahaan ini dalam mempertahankan image dan pemasaran produknya.
Kantor cabang Telkom satu satunya ini mempunyai peran yang sangat penting bagi masyarakat lamongan karena keberadaannya yang tidak pernah hilang dan setiap saat pasti dibutuhkan orang meskipun untuk saat ini orang banyak menggunakan alat telekomunikasi lain dalam beriteraksi.
Produk yang diluncurkan oleh Telkom sudah banyak dan masyarakat bisa menerima keberadaannya yang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu dengan banyak produk yang diluncurkan oleh Telkom maka pihak TELKOM harus mempunyai strategi untuk meretensi pelanngan ( setelah menjadi pelanggan tetap Telkom ).
Oleh karena itu Telkom memiliki sebuah wadah untu menampung pelanggan, melayani pelanggan dan menyediakan semuanya di Plasa TELKOM. Di Plasa TELKOM ini


1.2 Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Kerja Praktek
Penulis telah mengajukan permohonan kerja praktek di PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA,Tbk KANCATEL Lamongan yang berada di Jl. Ki Sarmidi Mangunsarkoro No. 2 Lamongan dan telah pelaksanaan magang dilaksankan selama satu bulan mulai 18 January 2010 s/d 18 February 2010.
1.3 Tujuan Magang
Produk-produk telkom yang telah ada tentunya harus dipertahankan keberadaannya, dengan retensi pelanggan melalui Customer Service Representative di Plasa TELKOM. Tujuan penulis magang di Kancatel Lamongan ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pelayanan pelanggan di Plasa TELKOM cabang Lamongan oleh Customer Service Representative.
2. Menerapkan teori yang didapatkan dalam kuliah sekaligus menganalisa kecenderungan stakeholders (user) terhadap kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Melatih mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja sesungguhnya.
1.4 Manfaat Magang
a. Melatih diri untuk beradaptasi dengan dunia kerja yang sesungguhnya.
b. Menambah pengalaman sebagai bekal ilmu memasuki dunia kerja
Dalam proses kegiatan yang penulis lakukan, penulis sudah mulai mengetahui dunia kerja di TELKOM khususnya di Plasa TELKOM, namun untuk sebuah proses perlu pembelajaran lebih lanjut, oleh karena itu, tujuan, manfaat yang kami peroleh adalah sebagai berikut:
1. Bagi Mahasiswa
a. Mendapatkan pemahaman tentang kuliah kerja komunikasi di Plasa TELKOM Kancatel Lamongan.
b. Melatih diri untuk beradaptasi dengan dunia kerja yang sesungguhnya.
c. Memahami tentang tentang pelayanan pelanggan di Plasa TELKOM Kancatel Lamongan
d. Menambah pengalaman sebagai bekal ilmu memasuki dunia kerja.
e. Memperkuat ketajaman berorganisasi, beradaptasi dalam teamwork, beraspirasi terhadap perkembangan komunikasi baru serta menambah kepekaan pada lingkungan sekitar, khususnya pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan.
f. Mengembangkan keterampilan dan memperluas wawasan di bidang komunikasi, khususnya mengembangkan mata kuliah yang diterapkan pada perkuliahan Komunikasi Antar Pribadi.



2. Bagi Akedemik
a. Kuliah Kerja Komunikasi ( KKK ) ini diharapkan berguna bagi perkembangan ilmu komunikasi, sehingga dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa selanjutnya.
b. Memadukan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktek nyata di dunia kerja dan masyarakat.
3. Bagi Instansi
a. Dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi TELKOM Kancatel Lamongan untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas khususnya di Plasa Telkom Kancatel Lamongan.













BAB II
LAPORAN HASIL MAGANG
2.1 Profil Instansi
2.1.1 Sejarah TELKOM secara umum:
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Telkom merupakan perusahaan penyelenggara bisnis T.I.M.E ( Telecomuniaction, Information, Media and Edutainment ) yang terbesar di Indonesia. Pengabdian Telkom berawal pada 23 Oktober 1856, tepat saat dioperasikannya layanan telekomunikasi pertama dalam bentuk pengiriman telegraf dari Batavia ( Jakarta ) ke Buitenzorg ( Bogor ). Selama itu pula TELKOM telah mengalami berbagai transformasi.
Transformasi terakhir sekaligus yang disebut dengan New TELKOM Indonesia adalah tranformasi dalam bisnis, transformasi infrakstruktur, transformasi sistem, model operasi dan transformasi sumber daya manusia. Transformasi tersebut resmi diluncurkan kepada pihak eksternal bersamaan dengan New Corporate Identity TELKOM pada tanggal 23 Oktober 2009, pada hari ulang TELKOM yang ke 153. Telkom juga memiliki tagline baru, The World in Your Hand.
• Wilayah- wilayah Divisi Regional Telkom
Dalam pembagian divisi regional TELKOM dibagi menjadi tujuh wilayah, dan berikut ini adalh pembagian wilayah- wilayah tersebut:
1. Divisi Regional I Sumatera
2. Divisi Regional II Jakarta dan sekitarnya
3. Divisi Regional III Jawa Barat
4. Divisi Regional IV Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
5. Divisi Regional V Jawa Timur
6. Divisi Regional VI Kalimantan
7. Divisi Regional VII kawasan Timur yang meliputi: Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Timor- Timur, Maluku dan Irian Jaya.
Divisi-divisi tersebut dikelola oleh suatu tim manajemen yang terpisah berdasarkan prinsip desentralisasi serta bertindak sebagai pusat investasi ( Divisi Regional) dan pusat keuntungan ( Divisi Network dan divisi lain) serta mempunyai laporan keuangan internal yang terpisah. Beralihnya kebijakan sentralisasi ke kebijakan dekonsentralisasi dan desentralisasi kewenangan, maka struktur dan fungsi kantor pusat juga mengalami perubahan. Berdasarkan organisasi divisional ini, maka kantor pusat dubah menjadi pusat investasi disederhanakan menjadi jumlah sumber daya manusia kantor perusahaan juga menjadi sedikit.
2.1.2 Visi dan Misi Telkom
• Visi PT. TELKOM, Tbk
“ To Become a Dominant InfoCom Player in The Region”
Dalam visi tersebut menunjukkan suatu tekad bahwa Telkom bukan hanya sekedar penyelenggara telepon tetap yang tersambung di rumah- rumah serta kantoran, tetapi TELKOM saat ini sudah menjadi penyelenggara jasa informasi dan komunikasi ( InfoKom)
Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia dan akan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik.
• Misi Perusahaan adalah:
“ One Stop InfoCom Services with Excellent Quality and Competitive Price and To Be the Role Model as the Best Managed Indonesian Corporation”
Dengan jaminan bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas, dengan harga kompetitif.
TELKOM akan mengelola bisnis melalui praktek- praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis.
• Nilai PT. Telkom

• Bentuk, Desain dan Makna Logo
Logo baru TELKOM mencerminkan brand positioning “ Life Confident” dimana keahlian dan dedikasi akan diberikan bagi semua pelanggan untuk mendukung kehidupan mereka dimanapun mereka berada. Brand Positioning ini didukung oleh “ service culture” baru yaitu: expertise, empowering, assured, progressive dan heart.

Expertise : makna dari lingkaran sebagai simbol dari kelengkapan produk dan layanan dalam portofolio bisnis baru Telkom yaitu: T.I.M.E ( Telecommunication, Information, Media, dan Edutainment).
Empowering : makna dari tangan yang meraih ke luar. Simbol ini mencerminkan pertumbuhan dan ekspansi ke luar.
Assured : makna dari jemari tangan. Simbol ini memaknai sebuah kecermatan, perhatian, serta kepercayaan dan hubungan erat.
Progressive : kombinasi tangan dan lingkaran. Simbol dari matahari terbit yang maknanya adalah perubahan dan awal yang baru
Heart : simbol dari telapak tangan yang mencerminkan kehidupan untuk menggapai masa depan.
• Logo Telkom New


Makna dari the world is in your hand adalah dunia ini bagaikan di genggaman tangan kita, walaupun di pisahkan oleh benua ataupun samudra seluas apapun jaraknya rasanya tidak terasa. Dengan adanya kredo baru ”the world is in your hand” Telkom ingin memberikan gambaran bagi pelanggannya bahwa dunia kini tak lagi susah di jangkau, dengan speedy dan POTS jarak yang ber mil-mil jauhnya kini jaraknya hanya segenggam tangan karena dunia ada ditangan anda.
Setiap warna yang dugunakan dalam logo Telkom memiliki makna yang berbeda- beda, dan berikut ini adalah makna dari warna-warna tersebut:
Selain simbol, warna-warna yang digunakan adalah :
1. Expert Blue pada teks Telkom melambangkan keahlian dan pengalaman yang tinggi
2. Vital Yellow pada telapak tangan mencerminkan suatu yang atraktif, hangat, dan dinamis
3. Infinite sky blue pada teks Indonesia dan lingkaran bawah mencerminkan inovasi dan peluang yang tak berhingga untuk masa depan.
2.1.3 Sejarah Singkat Telkom
1. 1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
2. 1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).
3. 1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.
4. 1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).
5. 1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).
6. 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
7. 1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.
8. 1989 Undang-undang nomor 3/1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.
9. 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no.25 tahun 1991.
10. 1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di Tokyo Stock Exchange.
11. 1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1 Januari 1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra – dengan mitra PT Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten – dengan mitra PT Aria West International (AriaWest); Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta – dengan mitra PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI); Divisi Regional VI Kalimantan – dengan mitra PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra); dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia – dengan mitra PT Bukaka Singtel.
12. 1999 Undang-undang nomor 36/1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.
13. 2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.
14. 2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
15. 2009 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) secara resmi pada tanggal 23 Oktober 2009 melakukan transformasi bisnis. Transformasi bisnis yang dilakukan Telkom kali ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Telkom,karena bersifat fundamental, menyeluruh, dan terintegrasi. Perubahan ini dibarengi dengan memperkenalkan corporate identity baru untuk menyambut era baru Telkom sebagai satu-satunya perusahaan TIME ( Telecomunication, Information, Media dan edutainment) di Indonesia. Transformasi bisnis ini pun menyentuh empat aspek dasar perusahaan, yakni trnasformasi bisnis, transformasi infrastruktur, transformasi system dan model operasi, serta transformasi human resources.

2.1.4 Kegiatan Usaha Kancatel Lamongan
Jenis jasa telekomunikasi PT Telkom yang sudah beroperasi sampai tahun 2004 ini adalah
1. Jasa telepon dalam negeri merupakan usaha PT. Telkom yang memberikan pendapatan terbesar. Komposisi pendapatan jasa yang meliputi : biaya pasang, biaya abonemen (langganan) bulanan dan biaya pemakaian telepon untuk panggilan lokal dan jarak jauh, pelayanan jasa telepon dalam negeri juga termasuk penyediaan telepon umum, baik kartu maupun koin.
2. Jasa interkoneksi kepada penyelenggara telekomunikasi lain merupakan jasa telekomunikasi karena adanya penyelenggara sambungan telekomunkas oleh pihak lain, seperti PT. Indosat. Dari hasil penyelenggara ini PT. Telkom memperoleh pendapatan yang diterima dari penyelenggara atau bagi hasil.
3. Jasa telepon bergerak selular yaitu penyelenggaraan sambungan telepon bergerak selular (STBS) ini bekerja sama dengan pihak lain atau dengan sistem patungan atau bagi hasil.
4. Jasa lainnya adalah meliputi jasa internet (TELKOMNet@instan), e-mail, calling card, Telex, Telegram, SLI 007, VSAT, TV Satelit TELKOMVision dan lainnya.
5. TELKOMFIexi, yang merupakan layanan jasa telekomunikasi tanpa kabel (wireless) dengan teknologi berbasis CDMA (Code Division Multiple Access).
1. Speedy,layanan internet menggunakan sambungan kabel telepon rumah.
2.1.5 5 Pilar Bisnis Telkom
1. Fixed Phone (TELKOM Phone)
1. Wartel & Telum (Tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan jasa telekomunikasi yang dikelola oleh Badan Usaha, Koperasi atau perorangan bekerjasama dengan TELKOM dalam melakukan akses SLJJ, SLI maupun selular.)
2. Telkom Coin (Telepon Umum Coin (TUC) adalah telepon yang menggunakan satu jenis uang logam yang berbentuk koin sebagai alat pembayaran yang sah atas biaya percakapan.)
2. Mobile Phone (TELKOMSEL)
1. Prepaid Services (simPATI)
2. Postpaid Services (Halo)
3. Network & Interconnection (TELKOM Intercarier)
1. Interconnection Services
2. Network Leased Services
4. Data & Internet
1. Leased Channel Service (TELKOM Link)
2. Internet Service (TELKOMNet)
3. VoIP Service (TELKOM Save & Global 017)
4. SMS Service (from TELKOMSEL, TELKOMFlexi & TELKOM SMS)
5. Speedy (Merupakan layanan (internet service) berkecepatan tinggi dari PT. TELKOM, berbasis teknologi akses Asymmetric Digital Subscriber Line (ADSL), yang memungkinkan terjadinya komunikasi data, voice dan video secara bersamaan)
5. Fixed Wireless Access (TELKOM Flexi)
1. Prepaid Services (Flexi Trendy) Flexi Trendy adalah layanan Flexi dengan sistem prabayar berbasis kartu/simcard yang dapat diisi ulang.
2. Postpaid Services (Flexi Classy) Flexi Classy adalah layanan Flexi dengan sistem pascabayar.
3. Flexy Home , Flexi Home adalah layanan flexi untuk perumahan atau kantor dilayani menggunakan terminal fixed berbasis nomor esn, tarif aktivasi, abonemen dan biaya pemakaian/usage sama dengan tarif telepon rumah/pstn.
2.1.6 Unit-unit Bisnis TELKOM terdiri dari Divisi, Centre, Yayasan dan Anak Perusahaan, sebagai berikut :
1. Infrastruktur Telekomunikasi
2. Carrier & Interconnection Service
3. Divisi Multimedia
4. Divisi Fixed Wireless Network
5. Enterprise Service
6. Divisi Akses
7. Maintenance Service Center
8. Training Center
9. Carrier Development Support Center
10. Management Consulting Center
11. Construction Center
12. I/S Center
13. R&D Center
14. Community Development Center(CDC)
Yayasan-Yayasan :
1. Dana Pensiun (Dapentel)
2. Yayasan Pendidikan TELKOM
3. Yayasan Kesehatan
4. Yayasan Sandhykara Putra Telkom (YSPT)
Anak Perusahaan : Kepemilikan > 50%
1. PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) : Telekomunikasi (Selular GSM) (baru)
2. PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra) : Telekomunikasi (KSO-VI Kalimantan)
3. PT Infomedia Nusantara (Infomedia) : Layanan Informasi (baru)
4. PT. Telekomunikasi Indonesia Internasional : International Telecommunication Services, Investment & Strategic Partnership and Project Management & Consultancy
5. PT. Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo) : Telekomunikasi Telepon Tetap (KSO-I Sumatra)
6. PT. Multimedia Nusantara (Metra) :Multimedia, pay special TV
7. PT. Napsindo Primatel International (Napsindo) : Network Access Point
8. PT Indonusa Telemedia (Indonusa) : TV Cable (baru)
9. PT Graha Sarana Duta (GSD) : Properti, Konstruksi dan Jasa (baru)
Kepemilikan 20% - 50%
1. PT Patra Telekomunikasi Indonesia (Patrakom) : Layanan VSAT
2. PT Citra Sari Makmur (CSM) : VSAT dan layanan telekomunikasi lainnya
3. PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) : Transponder Satelit dan Komunikasi
Kepemilikan < 20%
1. PT Mandara Selular Indonesia (MSI) : Layanan NMT - 450 Selular dan CDMA
2. PT Batam Bintan Telekomunikasi (Babintel) Telepon Tetap di Batam dan Pulau Bintan
3. PT Pembangunan Telekomunikasi Indonesia (Bangtelindo) : Pengelolaan Jaringan dan Peralatan Telco

2.1.7 Etika Bisnis Telkom :
Kebijakan etika kerja Perseroan menuntut setiap karyawan untuk memahami visi dan misi TELKOM dengan tujuh tata nilai utama: kejujuran, transparan, komitmen, kerjasama, disiplin, peduli dan tanggung jawab. Karyawan didorong untuk mendalami lima perilaku utama yakni strech the goals (mencapai target yang lebih tinggi), simplify (efisiensi dan efektifitas cara kerja), involve everyone (membangun kerjasama dan sinergi), quality is my job (mengutamakan kualitas) dan reward the winner (memberikan respek dan penghargaan).
Untuk memperkuat penerapan Etika Bisnis Perusahaan, memperkokoh jiwa
kebersamaan ll'esprit de corps dan sekaligus membangun iklim pembelajaran yang sehat di kalangan pegawai, dilakukan beberapa revisi, sehingga diharapkan terbentuknya pemahaman dan kesatuan gerak pada semua aspek serta fungsi perusahaan secara berkesinambungan.
TELKOM juga mengembangkan kebijakan etika bisnis yang komprehensif yang mendorong karyawan untuk memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip transparansi, kemandirian, akuntabilitas, tanggung jawab dan kewajaran dalam aktivitas rutinnya. Kebijakan etika bisnis memberikan panduan bagaimana Perseroan, manajemen dan karyawan berperilaku dan berhubungan dengan pihak-pihak lain. Kebijakan memberikan arahan bagaimana karyawan bersikap dalam memelihara hubungan yang baik dengan regulator dan stakeholders lainnya, serta mengembangkan praktek bisnis yang sehat dan transparan. lmplementasi dari kebijakan Etika Bisnis melalui Prosesi Silahturahami Patriot 135 atau dikenal dengan Prosessi SP-135 yang dilaksanakan satu kali dalam satu minggu pada hari Rabu selama 30 menit dan dilaksanakan pada permulaan jam kerja di lokasi kerja. Pimpinan Unit memberikan arahan dan melakukan monitoring pelaksanaan SP-135 bulan sebelumnya dan setiap tanggal 5 setiap bulan Pimpinan unit melaporkan hasil monitoring kepada Direktur Human Capital.
2.1.8 Struktur Organisasi Karyawan Telkom adalah :
1. Front liner, menjalankan fungsi customer care yaitu : Unit pelayanan
pelanggan Regional, Unit pelayanan Interkoneksi dan Kemitraan, Unit
Pelayanan Corporate Customer, Unit Pelayanan Payment Management dan
Biling.
2. Service and marketing, devalopment and operational, menjalankan fungsi
service support, yaitu : Kantor Daerah Pelayanan Telekomunikasi, Unit Bisnis
Internet, Unit Bisnis Jasa Nilai Tambah, Unit Bisnis C-Phone.
3. Network and system management, menjalankan fungsi operation support,
yaitu : Unit Pengelola Network Regional dan Unit Pengelola Sistem Informasi
Regional.
4. Fungsi support yaitu : Bidang SDM, Bidang Keuangan, Bidang Performansi,
Bidang Pengembangan Bisnis, Bidang Pelayanan dan Pemasaran, Bidang
General Affair, Bagian Public Relation, Bagian Hukum, dan Bagian
Sekretariat Divisi.
Keterangan diatas seperti Struktur Organisasi KANCATEL Lamongan di bawah ini :


















































Organisasi pada dasarnya bertujuan untuk mengkoordinir suatu kelompok atau badan yang terdiri dari berbagai personalia serta mendayagunakan kemampuan yang ada secara keseluruhan untuk diarahkan kepada tujuan tertentu. Selain itu dapat menggambarkan suatu rangkaian atau proses yang harus dilalui dalam perumusan tujuan. Pengambilan keputusan dan di lain pihak struktur ini merupakan perincian kegiatan yang harus dikerjakan masing-masing pegawai sesuai dengan bidang serta wewenangnya. Adapun pentingnya pembagian tugas dalam suatu organisasi akan mendatangkan keuntungan perusahaan yakni:
a. Memperjelas antara tugas, wewenang, kewajiban dan tanggung jawab.
Menghindari terjadinya ketidakharmonisan dalam pelaksanaan.
b. Tugas spesialisasi penempatan tenaga kerja menurut keahlian yang
dimiliki tenaga kerja tersebut.
c. Memperlancar koordinasi antara unit dan perusahaan.
Pada umumnya dikenal tiga bentuk struktur organisasi yaitu:
a. Struktur organisasi garis
b. Struktur organisasi garis dan staf
c. Struktur organisasi fungsional dan staf
Dari struktur PT. TELKOM Cabang Lamongan di atas, selanjutnya dalam pembagian kerja dapat dilihat dari fungsi dan tugas-tugas dari masing-masing bagian secara garis besar adalah sebagai berikut:
1) Junior Manager Cabang Telkom ( CATEL ) Lamongan yang bertanggung jawab atas segala kegiatan yang ada di KANCATEL Lamongan.
2) Assistant Junior Manager (AJM) OMAN
Merupakan kepala bagian jaringan akses untuk wilayah Lamongan yang bertanggung jawab atas segala kegiatan yang ada di bagian jaringan akses kepada Junior Manager Catel Lamongan.
3) AJM Service
Merupakan kepala bagian service untuk wilayah Lamongan yang bertanggung jawab atas segala bagian yang ada di bagian service kepada junior manager Catel Lamongan.
4) AJM ADM Support
Merupakan kepala bagian support untuk wilayah Lamongan yang bertanggung jawab atas segala bagian yang ada di bagian support kepada Junior Manager Catel Lamongan.
5) Supervisor Technician OMAN Lamongan 1
Pegawai yang bertanggung jawab ata jaringan akses Kabupaten Lamongan dan Kecamatan Sukodadi.
6) Supervisor Technician OMAN Lamongan 2
Pegawai yang bertanggung atas jaringan akses di daerah Babat dan Brondong.
7) Supervisor Technician Wireless & JANM
Bertanggung jawab untuk pemasangan wireless jaringan internet
8) Supervisor CCAN
Bertanggung jawab atas komplain pelanggan.
9) Officer 3 sales Pots
Bertanggung jawab atas pemasangan dan pencabutan pots.
10) Supervisor Plasa
Bertanggung atas pelayanan terhadap pelanggan mengenai pasang baru
11) Officer 3 service
Pegawai yang memberikan pelayanan terhadap pelanggan.
12) Officer 3 sales Flexi
Bertanggung jawab untuk pemasaran produk TELKOM yang berupa telepon flexi.
13) Data pelanggan
Bertanggung jawab atas data-data para pelanggan
14) Officer ADM 1
BeOffirtanggung jawab atas segala administrasi logistik dan aset yang ada di KANCATEL Lamongan.
15) Officer ADM 2
Bertanggung jawab atas segala administrasi SDM yang ada di KANCATEL Lamongan.
16) Officer 3 SAS
Bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan PT.TELKOM Kancatel Lamongan.
17) Officer sales Data dan VAS
Bertanggung jawab atas data di ruang MDF
18) Officer 3 SRTEC Public Phone
Teknis yang menangani jika masalah telepon yang memanfaatkan kabel tembaga.
19) Teknisi Akses/ Infratel
Melaksanakan Maintenance jaringan akses baik yang bersifat preventif maupun korektif untuk meningkatkan performansi jaringan dan melaksanakan operasi dan layanan jaringan akses.
20) Officer Wartel/ Net PP-Representative
Pegawai yang melayani pelanggan yang ingin mendirikan Wartel maupun Warnet.
2.2 Aktivitas Magang
2.2.1 Pelayanan
Disini penulis terfokus di sebuah pelayanan di TELKOM Kancatel Lamongan dalam melakukan aktivitas magang selama satu bulan di Kancatel Lamongan. Dimana disini penulis selama dalam kurun waktu satu bulan magang di Kancatel Lamongan membantu kegiatan pelayanan pelanggan khususnya di bagian Customer Service Representative tepatnya di Plasa Telkom untuk membantu kegiata pelayanan pelanggan yang pokok khususnya di Plasa Telkom yaitu meretensi pelanggan (mempertahankan pelanggan), melayani pelanggan sebaik mungkin melalui frontliner di plasa telkom, disamping itu penulis membantu melakukan kegiatan-kegiatan pokok untuk mempertahankan kelangsungan perusahaannya, untuk berkembang, dan untuk mendapatkan laba. Proses pelayanan pelanggan ini dilakukan setelah pelanggan menjadi pelanggan loyal di PT. TELKOM baik itu pelanggan POTS ( telepon rumah), Flexy(non mobile), maupun Speedy. Tiga produk TELKOM tersebut lah yang Customer Service Layani di Plasa Telkom.
Menurut ketentuan dari pihak kampus untuk melaksanakan sebuah KKK(Kuliah Kerja Komuikasi) maka disini penulis menetapkan bagian pelayanan khusunya di bagian Customer Service Representative di Kancatel Lamongan lebih menjadi program utama penulis untuk melaksanakan KKK atau bisa disebut sebagai magang dan menerapkan teori yang didapatkan dalam kuliah sekaligus menganalisa kecenderungan stakeholders (user) terhadap kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.Pemasaran disini lebih memfokuskan pada kegiatan kerja dalam masalah persoalan data, bagaimana menghadapi complain pelanggan ,dan kegiatan secara langsung face to face yang harus dikerjakan dari sebuah fronliner Telkom di Plasa Telkom Kancatel Lamongan.
Pelayanan oleh Customer Service Representative ini juga harus memenuhi prosedur pelayanan yang telah ditetapkan oleh PT. TELKOM. Prosedur layanan diganakan sebagai referensi implementasi dalam arti format prosedur dapat berbeda tetapi jaminan terhadap ketersediaan output yang dirasakan oleh pelanggan (beserta atributnya, seperti informasi,service level guarantee)tetap sama. Hal lain yang harus diperhatikan juga adalah terpenuhinya indicator tolok ukur prosedur yang dijadikan sebagai Performance Measure untuk Distinct Job Manual (DJM) yang didefinisikan.
Prosedur layanan tersebut antara lain mengatur tentang:
a) Pelayanan Fixed Wireline ( POTS):
1. PSB
2. Mutasi
3. Fitur
4. Penanganan Keluhan ( Gangguan dan Klaim)
5. Wartel, Warung Telkom, Warkom dan warnet
6. Speedy, Internet dan VAS
7. Permintaan RHS di 108 dan BPT
8. layanan prin out/ AMA tagihan
9. Pengelolaan pembayaran jasa telekomunikasi

b) Pelayanan Fixed Wireles (FLEXI):
1. PSB
2. Mutasi
3. Fitur
4. Penanganan Keluhan (gangguan dan klaim)
5. Wartel, warung telkom, Warkom & Warnet
6. Permintaan RHS di 108 dan BPT
7. layanan print out/ AMA Tagihan
8. Pengelolaan Pembayaran Jasa Telekomunikasi
c) Pelayanan Speedy:
1. Selling
2. Order Handling via Walk in
3. Order handling via 147
4. Order Handling via Web in
5. Order Handling via SMS
6. Aktivasi
7. Isolir Tunggakan
8. Cabut Permanen
9. Berhenti Berlangganan
10. Billing Complaint Handling
11. Customer Complaint Handling

d) Pelayanan lainnya:
1. Pengelolaan interaksi pelanggan
2. Recruitment CSR
3. Pebgelolaan sarana dan prasarana Plasa TELKOM
4. pengelolaan uang pendapatan plasa telkom
5. pengelolaan evaluasi harian plasa Telkom (layanan dan pendapatan)
6. Customer education
7. Penerapan 6R
Pelayanan tersebut tentunya berada di Plasa Telkom dan dilayani oleh Customer Service Representative sebagai Frontliner PT. TELKOM:
1. Plasa Telkom
PlasaTELKOM merupakan outlet/tempat pelayanan milik TELKOM, yang sepenuhnya dikelola oleh TELKOM dan atau dikerjasamakan dengan mitra disediakan untuk melayani pelanggan/calon pelanggan/pengguna jasa TELKOM yang ingin dilayani secara langsung (face to face) dengan berbagai kemungkinan latar belakang/penyebab, baik mengenai kebutuhan akan segala informasi yang berkaitan dengan produk layanan TELKOM maupun untuk pemenuhan kebutuhan produk itu sendiri.
Di sini juga penulis melakukan kegiatan KKK( Kuliah Kerja komunikasi) selama satu bulan ini. Plasa Telkom didesain sedemikian rupa untuk melayani pelanggan/calon pelanggan/pengguna jasa TELKOM yang ingin dilayani secara langsung (face to face) agar pelanggan atau calon pelanggan merasa nyaman dan dihargai sehingga mereka akan menjadi pelanggan loyal dan tetap menggunakan produk TELKOM. Karena PT. TELKOM selalu memberikan yang terbaik untuk pelanggannya. Karena di Plasa Telkom inilah pelanggan mencurahkan semua apa yang dikeluhkan, jadi intinya Plasa Telkom ini menjadi wakil dari PT. TELKOM untuk menyelesaikan semua permasalahan yang dikeluhkan pelanggan. Sehingga semua permasalahan cukup diselesaikan di Plasa Telkom, sehingga Plasa Telkom menjadi One Stop Solution dan One Stop Service sehingga pelanggan tidak “dipimpong”. Tempat melayani pelanggan di Plasa Telkom ini disebut Backroom, Backroom Plasa TELKOM merupakan salah satu unit bagian Plasa TELKOM yang sangat penting dalam melayani customer atau pelanggan untuk itu backroom wajib memiliki misi layanan yang sesuai dengan standard pelayanan TELKOM yaitu : TULUS, IKHLAS RAMAH , MUDAH , CEPAT DAN PASTI .
2. Customer Service Representative
Customer Service Representative (CSR) merupakan salah satu ujung tombak terpenting bagi perusahaan dalam membangun kepuasan pelanggan. Melalui tangan CSR, perusahaan dapat memberikan persepsi yang positif kepada pelanggan. Melalui tangan CSR pula perusahaan dapat mengetahui apa yang menjadi ekspektasi pelanggan. Pihak di dalam perusahaan yang memiliki tugas menjembatani komunikasi antara pelanggan dan perusahaan sehu¬bungan dengan produk dan jasa yang dibeli oleh pelanggan untuk tujuan terjadinya hubungan jangka panjang dengan pe¬langgan.
Hubungan dengan pelanggan ( customer relationship ) adalah kata kunci yang penting pada Customer Service Representative . Umumnya Customer Service Representative tidak berhubungan langsung dengan transaksi. Mereka hanya menjadi jembatan atau pintu utama yang menghubungkan pelanggan dengan pihak lain dalam perusahaan.
Peran Customer Service Representative di Plasa Telkom Kancatel Lamongan
Ada beberapa peran strategis yang dimiliki oleh CSR:
1. CSR membantu perusahaan untuk dapat mempertahankan pelanggan mereka. Pilihan yang banyak tersedia mem¬buat pelanggan mudah berpindah ke penyedia layanan lain. Industri kartu seluler adalah contoh bagaimana kebocoran pelang¬gan ( churn ) banyak terjadi akibat persaingan.
2. CSR membantu perusahaan dalam membentuk image yang baik di mata pelanggan. Seorang CSR harus men¬cer¬minkan nilai-nilai yang ingin ditampilkan oleh peru¬sahaan. Seorang CSR pada perusahaan harus ter¬lihat sebagai seorang yang pintar dan me¬ngua¬sai teknologi. Se¬orang CSR pada sebuah bank harus dapat men¬ciptakan perasaan a¬man bagi seorang na¬sa-bah. Jadi, tidak ha¬nya rapi dan menarik, seorang CSR harus mam¬pu mengko¬mu¬nikasikan secara non verbal, nilai-nilai yang ingin ditanamkan ke¬pada pelanggan.
Selain terdapat peran penting Customer Service Representative Plasa Telkom Kancatel Lamongan di atas, juga terdapat factor yang menentukkan kualitas jasa atau layanan pada Plasa Telkom Cabang Lamongan sebagai Berikut:
1) Access
Salah satu kelancaran dalam pelaksanaan layanan yaitu adanya access atau jaringan yang baik sehingga dengan mudah untuk dihubungi dan ditemukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses layanan. Salah satu penunjang kualitas layanan pada Plasa Telkom Cabang Lamongan menggunakan system access computer yang baik dalam kegiatan administrasi.
2) Courtesy
Dalam memberikan pelayanan petugas frontliner baik Supervisor maupun CSR diwajibkan bersikap sopan dan santun, tanggap terhadap pekerjaan, perhatian, dan ramah pada saat memberikan layanan kepada pelanggan sehingga terkesan baik dan pelanggan merasa nyaman dengan adanya layanan tersebut.

3) Communication
Komunikasi merupakan hal penting pada Plasa Telkom Cabang Lamongan dalam memberikan layanan, untuk itu sebagai Supervisor dan CSR memberikan informasi kepada pelanggan dengan bahasa yang mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.
4) Credibility
Pada saat memberikan layanan maupun penyampaian informasi seorang Supervisor dan CSR wajib bersifat jujur kepada pelanggan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan. Selain itu adanya sifat jujur dan saling terbuka akan menumbuhkan kesan yang baik oleh pelanggan kepada perusahaan sehingga pelanggan lebih percaya dan senantiasa menjadi pelanggan yang setia.
5) Security
Keamanan merupakan salah satu hal penting dalam memberikan layanan pada plasa Telkom Cabang Lamongan. Pihak perusahaan memberikan jaminan keamanan kepada pelanggan dengan tujuan menjaga kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan serta peningkatan kualitas layanan.
6) Understanding/ knowing the customer
Hal penting dalam melakukan layanan kepada pelanggan yaitu usaha untuk memahami kebutuhan pelanggan. Seorang Supervisor dan CSR pada Plasa Telkom Cabang Lamongan selalu berusaha memberikan layanan yang diharapkan pelanggan dengan selalu memperhatikan dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pelanggan yang berkaitan dengan penggunaan produk-produk Telkom dengan tujua tercapainya kepuasan pelanggan.
7) Tangibles
Sebagai usaha peningkatan kualitas layanan dan pencapaian kepuasan pelanggan, dalam memberikan layanan pada Plasa Telkom Cabang Lamongan selalu memberikan bukti fisik dari jasa sesuai dengan bentuk layanan yang diminta pelanggan yaitu berupa fasilitas fisik. Misalnya kwitansi, surat pernyataan, dan peralatan lain yang digunakan sebagai bukti atas jasa layanan yang diberikan Plasa Telkom Cabang Lamongan kepada pelanggan.
2.2.2 Entry Data Pengguna Speedy Area Kantor Cabang Telekomunikasi Lamongan meliputi STO Lamongan, STO. Babat, STO. Sukodadi dan STO Brondong sebanyak 500 data.
Kegiatan utama sehari-hari dalam masa magang di Kancatel Lamongan adalah membantu proses pelayanan di Plasa Telkom dan bagian support,karena penulis memilih di bagian pelayanan oleh karena itu sebagian besar waktu penulis dihabiskan di Plasa Telkom. Kegiatan pada magang adalah mengentry data pengguna/ pelanggan speedy meliputi STO Lamongan, STO Babat, STO Sukodadi serta STO Brondong yang kemudian di Excel, akan tetapi sebelum itu penulis harus Log In terlebih dahulu ke Website internal milik PT.TELKOM di www.sbt.divre5/speedy.com.



1.1 Halaman Depan

1.2 Isi

2.2.3 Membuat Surat Edaran Promosi untuk Calon Pelanggan POTS (plan Ordinary Telepon Service) bagi Tenant Lamongan Plasa sebanyak 500 lembar.
Salah satu strategi Kancatel Lamongan dalam mempromosikan produk Telkom sendiri adalah membuat surat edaran promosi untuk calon pelanggan POTS (telepon kabel) bagi tenant Lamongan Plasa. Telkom langsung mengeluarkan strategi karena tenant Lamongan Plasa kebanyakan dan hampir semua belum berlangganan POTS karena Lamongan Plasa adalah pusat perbelanjaan di Lamongan yang baru diresmikan 4 Februari 2010 kemarin. Oleh karena itu menurut penulis ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menarik customer menjadi pelanggan tetap Kancatel Lamongan.

2.2.4 Mengenali Karakteristik Pelanggan yang Datang di Plasa Telkom, Khususnya yang Memanfaatkan Produk terbaru Telkom
Agar penulis paham benar tentang CSR dan bagaimana pelayanan di Plasa Telkom Kancatel Lamongan maka penulis harus melakukan survey, agar penulis mengetahui bagaimana Implementasi Pelayanan Pelanggan melalui Plasa Telkom. Serta agar penulis mengetahui proses yang terjadi antara pelanggan dengan customer ketika mereka sedang berinteraksi, apabila terdapat pelanggan yang marah dan tidak puas terhadap layanan Plasa Telkom. CSR bertugas memberikan layanan serta serta informasi mengenai produk-produk Telkom terhadap pelanggan maupun calon pelanggan.

2.2.5 Konfirmasi Speedy Kepada Pelanggan Melalui Via Telepon
Salah satu strategi promosi yang dilakukan oleh PT. TELKOM untuk mempromosikan produk terbaru mereka speedy yaitu dengan mempromosikan speedy kepada pelanggan melalui via telepon. Di sini penulis harus menghubungi satu-satu customer TELKOM via telepon. Ada banyak pelajaran yang diambil oleh penulis ketika menghubungi pelanggan kita harus benar-benar berhati-hati baik itu saat mengucapakan salam maupun waktu yang tepat untuk menghubungi.

2.2.6 Membuat Berita Tentang Perkembangan Kancatel Lamongan
Meskipun ketika magang penulis berkonsentrasi untuk mengambil di bagian pelayanan khususnya di bagian Customer Service Representative, akan tetapi penulis diberi kesempatan pembimbing magang selama di Kancatel Lamongan untuk membantu Humas ataupun wartawan media khusus karyawan Telkom Kancatel Lamongan untuk membuat berita tentang Seleksi Customer Service Representative, dengan alasan karena laporan magang penulis tentang Customer Service Representative di Plasa Telkom Lamongan. Berita itu cukup lumayan pembacanya, karena berita tersebut dimuat di salah satu media online portal milik karyawan telkom (hampir mirip seperti web). Jumlah pembacanya pada saat itu mencapai 150 pembaca karyawan PT. Telkom yang terdapat pada Kabupaten Lamongan. (berita terlampir)















BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari hasil uraian yang telah dikemukakan diatas pada tiap halaman mengenai Implementasi Pelayanan Pelanggan Melalui Plasa Telkom maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Plasa Telkom merupakan outlet atau tempat pelayanan milik Telkom, yang sepenuhnya dikelola oleh Telkom dan atau dikerjasamakan dengan mitra disediakan untuk melayani pelanggan atau calon pelanggan atau pengguna jasa Telkom yang ingin dilayani secara langsung(face to face). Dalam upaya meningkatkan efektivitas serta kualitas layanan maka PT. Telkom menerapkan One Stop Service dan One Stop Soulution yaitu suatu program layanan yang dapat melayani permintaan layanan kepada pelanggan secara tuntas pada satu meja layanan.
Pelaksanaan program One Stop Service dan One Stop Soulution pada Plasa Telkom Cabang Lamongan dapat dikatakan cukup baik. Pelaksanaan pelayanan pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan dapat dikatakan cukup baik. Sebagai upaya dalam efektivitas layanan pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan mengefektifkan bentuk-bentuk layanan berupa layanan dengan lisan, layanan melalui tulisan, dan layanan berbentuk perbuatan. Meskipun masih banyak terdapat kekurangan karena pelaksanaan kayanan kurang sesuai dengan standar layanan Plasa Telkom. Salah satu kekurangan dari pelaksanaan pelayanan pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan yaitu tidak adanya feedback secara langsung dari pelanggan yang menyebabkan pihak perusahaan kurang memahami keinginan pelanggan secara langsung. Namun bagi Kancatel Lamongan menarik feedback dari pelanggan bukan satu-satunya tolak ukur dalam mengukur efektifitas layanan pada Plasa Telkom Cabang Lamongan. Pengukuran efektifitas layanan pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan menggunakan jasa konsultan yang dilakukan setiap tahun.
Selain Plasa Telkom yang juga sangat berperan penting pada PT. Telkom Cabang Lamongan, Customer Service Representative pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan ini juga sangat berperan penting. CSR sebagai frontliner perusahaan, sehingga segala sesuatu yang ada di PT. Telkom Kancatel Lamongan sudah terwakili oleh CSR tersebut. Pelanggan juga dapat dengan mudah mengeluarkan keluhannya, tinggal datang ke Plasa Telkom dan semua masalah akan mudah diatasi dengan mudah.


3.2 SARAN
Bagi Plasa Telkom Kancatel Lamongan :
1. Untuk lebih meningkatkan kegiatan strategi pelayanan di KANCATEL Lamongan secara baik.
2. Kancatel Lamongan lebih meningkatkan lagi kualitas serta kinerja pegawainya khususnya pegawai pada Plasa Telkom karena sebagai frontliner perusahaan dan berhubungan langsung dengan pelanggan maupun calon pelanggan.
3. Pengadaan pelatihan-pelatihan khusus bagi pegawai utnuk lebih profesional dalam melaksanakan pekerjaan terutama dalam memberikan layanan kepada pelanggan.
4. Pegawai pada Plasa Telkom Kancatel Lamongan lebih memperhatikan dan mengaplikasikan standar layanan Plasa Telkom.
5. Selain menggunakan pihak konsultan untuk mengukur evektivitas layana sebaiknya dalam setiap menutup interaksi seorang CSR meminta feedback dari pelanggan sebagai evaluasi layanan serta untuk mengetahui kualitas layanan setiap CSR.
6. Adanya ketentuan waktu dalam memberikan layanan setiap pelanggan sehinggan pelanggan yang lain tidak merasa jenuh menunggu ketika berlangsungnya proses layanan.
7. Meningkatkan tingkat kinerja karyawan,tanggung jawab dan menjaga image perusahaan agar lebih baik lagi.
8. Agar membuat suatu proses pelayanan yang akan dilakukan selanjutnya agar kegiatan pelayanan dapat berjalan dengan lancer.
9. Lebih meningkatkan kinerja KKK ini agar sesuai dengan yang diharapkan yaitu terjalinnya kerja sama yang harmonis antar kedua instansi.
10. Peningkatan kerja sama antar lembaga sehingga memungkinkan untuk bisa membantu dalam pencarian lapangan pekerjaan dan penciptaan lapangan kerja baru.


Bagi Prodi /Lembaga :
1. Lebih banyak memberikan ilmu tentang suatu cara menghadapi publik untuk bekal yang akan datang.
2. Memberikan solusi yang terbaik kepada mahasiswa untuk keperluan yang benar benar dibutuhkan baik ilmu maupun sikap.
Bagi Penulis :
1. Untuk lebih memperdalam lagi tentang ilmu yang berhubungan dengan Komunikasi Antar Pribadi dibangku kuliah yang bermanfaat bagi dunia kerja yang akan dihadapi mendatang.
2. Lebih mempunyai tangungjawab yang besar terhada kinerja yang sudah dilakukan terhadap Kancatel Lamongan.
3. Dan mempunyai sikap kerjasama yang besar dalam suatu dunia kerja atau teamwork.

Rabu, 07 Juli 2010

Perempuan Butuh Rp 227 Juta untuk Membeli Sepatu

Coba lihat ke rak sepatu Anda, dan Anda akan menemukan sepatu berhak tinggi untuk ke kantor, sepatu berhak tinggi untuk kondangan, sepatu datar, sepatu sandal, dan masih banyak sepatu lainnya. Ternyata, banyak sekali sepatu yang dimiliki oleh perempuan pada umumnya. Habis, siapa sih yang bisa tahan tidak membeli sepatu yang lucu, saat lagi didiskon pula?

Akan tetapi, pernahkah Anda berpikir, berapa banyak uang yang Anda habiskan untuk membeli sepatu sepanjang hidup Anda?

Sebuah survei terbaru dari perusahaan asuransi Inggris, GoCompare.com, terhadap 3.000 wanita menemukan bahwa rata-rata perempuan menghabiskan hampir Rp 227 juta untuk membeli sepatu. Daily Express juga melaporkan, perempuan setidaknya memiliki 19 pasang sepatu di lemarinya. Anak perempuan mulai membeli sepasang sepatu tanpa sepengetahuan ibunya sejak umur 14 tahun. Kemudian, mereka membeli tujuh pasang sepatu setiap tahun selama hidup mereka. Total, jumlah sepatu yang mereka beli rata-rata 469 pasang.

Perempuan akan menghabiskan rata-rata sekitar Rp 481.000 untuk setiap pasang sepatu (atau sekitar Rp 3.360.000 per tahun), dan sekitar Rp 224.469.000 selama 67 tahun hidup mereka.

Dari 19 pasang yang dimiliki oleh seorang perempuan, tiga pasang di antaranya merupakan sepatu berhak tinggi, enam pasang merupakan sandal jepit, selop, sepatu datar, atau wedges. Tiga pasang sepatu lainnya adalah boots, dua pasang untuk sepatu kerja, empat pasang sepatu "gaul" untuk jalan-jalan bersama teman, dan satu atau dua pasang merupakan sepatu model apa saja.

Fakta lain tentang kecintaan perempuan pada sepatu:
* Empat dari 10 perempuan memandang perempuan lain dari sepatu yang digunakan.
* Lebih dari setengah perempuan yang membeli sepatu baru mengaku tidak menyesal saat membeli sepatu lagi.
* Satu dari empat perempuan tidak akan memberitahukan pasangannya bahwa ia telah membeli sepatu baru, dengan alasan, "Laki-laki tidak akan mengerti."

Harmonisasi Warna pada Wajah

Permainan warna dan bentuk wajah merupakan kunci dalam tata rias. Tak perlu membaurkan palet warna begitu tebal pada mata dan pipi untuk mendapatkan riasan yang cantik. Dengan sapuan tipis yang sesuai, hal itu akan mempertegas riasan mata dan pipi Anda.

Mata
Mata Cekung

Gunakan palet warna dengan tekstur yang memiliki efek glitter atau kemilau yang berfungsi agar mata terlihat lebih menonjol atau besar. Lalu, sapukan warna-warna terang, seperti ungu, biru, dan kuning, untuk meminimalkan kesan cekung pada mata. Untuk sudut mata, gunakan warna terang dari pewarna mata yang digunakan.


Untuk si mata cembung atau besar, pilih perona mata dengan palet bertekstur matte atau polos, tanpa kilau. Gunanya, untuk menyamarkan mata yang besar, dan gunakan palet dengan warna coklat tua, biru tua, atau hijau tua.

Mata Sipit

Bagi wanita yang memiliki jenis mata sipit, kecil, atau tak berkelopak, gunakan perona mata dengan dominasi warna-warna terang, seperti merah, pink, dan biru. Pilih jenis eyeshadow bertekstur matte yang berfungsi untuk memberikan kesan besar pada mata Anda.


Pipi
Wajah Bulat



Wajah Bulat
Aplikasikan perona pipi dengan warna peach, mulai dari ujung telinga atas hingga ke ujung bibir, untuk memberikan efek tirus pada wajah bulat Anda sehingga akan terlihat menjadi oval.

Wajah Hati
Untuk wanita pemilik wajah dengan bentuk hati, pulaskan perona pipi warna oranye pucat yang bermula dari ujung telinga hingga pertengahan antara hidung dan bibir.


Wajah Kotak

Sapuan lembut warna pink pada pipi yang bermula dari ujung telinga menuju cuping hidung akan memberikan kesan lembut pada rahang dan daerah pelipis wajah Anda.

Senin, 19 April 2010

MAKNA KOMUNIKASI NON VERBAL PADA ANAK TUNARUNGU

MAKNA KOMUNIKASI NON VERBAL PADA ANAK TUNARUNGU
(STUDY KASUS PADA SISWA SDLB KAB. BANGKALAN)

PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF



OLEH:
LAILIYAH HIDAYATI
070131100016



PRODI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO
2010




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Komunikasi merupakan satu-satunya cara untuk menyampaikan sebuah pesan yang akan disampaikan. Dunia semakin cepat berubah, dalam dua dasawarsa terakhir perkembangan teknologi sudah demikian pesatnya memberikan dampaknya yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Salah satu hal yang berkembang sangat pesat dan menjadi pemicu dari perkembangan yang ada adalah komunikasi. Dalam perkembangan terakhir dimana dunia informasi menjadi sangat penting dalam aspek kehidupan, maka komunikasi akhirnya tidak dapat ditawar lagi dan menjadi bagian yang sangat penting dalam melengkapi kehidupan manusia. Metode, fasilitas dan perangkatnya pun sudah berkembang maju sedemikian modernnya sehingga sekarang dunia seakan tidak ada batas lagi, manusia dapat berhubungan satu-sama lain dengan begitu mudah dan cepatnya.
Komunikasi adalah sebuah proses interaksi untuk berhubungan dari satu pihak ke pihak lainnya, yang pada awalnya berlangsung sangat sederhana dimulai dengan sejumlah ide-ide yang abstrak atau pikiran dalam otak seseorang untuk mencari data atau menyampaikan informasi yang kemudian dikemas menjadi sebentuk pesan untuk kemudian disampaikan secara langsung maupun tidak langsung menggunakan bahasa berbentuk kode visual, kode suara, atau kode tulisan.
Komunikasi juga dibedakan menjadi dua, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan dengan menggunakan kata-kata, begitu sebaliknya komunikasi non verbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi non verbal yaitu penggunaan expresi wajah marah ataupun bahagia tanpa menggunakan kata-kata.
Salah satu bentuk komunikasi yang banyak berpengaruh terhadap efektifitas pembicaraan adalah komunikasi non-verbal (tanpa kata). Adakalanya seseorang kurang memahami makna dan pengaruh komunikasi non-verbal terhadap suksesnya pembicaraan.
Komunikasi Antar Manusia, atau seringkali dalam beberapa literatur disebut Human Communication, merupakan kegiatan penyampaian informasi, berita, pesan, atau amanah dari seseorang kepada orang lain dengan harapan agar hal-hal yang diberitahukan itu dapat diterima, dimengerti, diikuti dan diaplikasikan, bahkan menjadi milik bersama antara sumber dan penerima.
Kegiatan komunikasi dilaksanakan dengan menggunakan lambang atau kode. Kode yang sebagian besar digunakan dalam komunikasi adalah kode yang diucapkan atau ditulis (kode yang berhubungan dengan penggunaan kata-kata). Tetapi sesungguhnya masih ada kode lain yang sangat penting peranannya dalam komunikasi, yaitu kode non-verbal, atau kode tanpa kata.
Sewaktu kita mengadakan pembicaraan dengan seseorang, cara yang terbaik yang dapat kita perbuat, ialah mencoba membangkitkan dengan perantaraan lambang-lambang lisan atau visual, dengan arti atau makna serta pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki oleh pendengar atau penerima. Hanya bunyi dan tanda-tanda yang dapat kita sampaikan. Karena setiap orang mempunyai suatu perbendaharaan tanda-tanda dan bunyi yang berlain-lainan, maka dengan mudah dapat kita pahami, bahwa tidak mungkin ada dua orang yang mempunyai arti-arti yang sama atau serupa betul.
Karena itu, apa yang dikeluarkan atau disampaikan seseorang sebagai suatu komunikasi, mungkin sekali sedikit berlainan, malah kadang-kadang jauh menyimpang bagi orang yang mendengarkan atau menerimanya. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh seseorang komunikator demi suksesnya komunikasi. Disini penulis akan meneliti tentang bentuk komunikasi non verbal yang digunakan atau sering diterapakan pada anak tunarungu. Meskipun anak tunarungu tidak dapat mendengar dan berbicara akan tetapi mereka mempunyai symbol untuk mengutarakan isi hatinya atau untuk menyampaikan pesan kepada orang lain dengan bahasa tubuhnya sendiri.



1.2 RUMUSAN MASALAH:
Berdasarkan latar belkang masalah di atas dirumuskan masalah berikut ini :
1. Makna komunikasi komunikasi non verbal apa yang terdapat pada anak tunarungu di SDLB Kab. Bangkalan?
2. Apa hambatan anak tunarungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal?

1.3 TUJUAN PENELITIAN:
Tujuan diadakannya penulisan ini adalah untuk :
1. Untuk mengetahui cara anak tunarungu di SDLB Kab. Bangkalan berkomunikasi secara non verbal.
2. Untuk mengetahui hambatan anak tunarungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal.

1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Untuk memahami bagaimana cara anak tunarungu berkomunikasi sesama anak tunarungu menggunakan komunikasi non verbal.
2. Memberi tambahan ilmu kepada masyarakat tentang komunikasi non verbal yang digunakan anak tunarungu di SDLB Kab. Bangkalan.
1.5 FOKUS PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan penelitiannya pada interaksi komunikasi non verbal guru dan murid atau murid dengan murid di SDLB Kab. Bangkalan.



BAB II
KERANGKA TEORI

2.1 KERANGKA TEORI
Teori Komunikasi David K.Berlo:
David K.Berlo, diketahui bahwa komunikasi terdiri dari 4 Proses Utama yaitu SMRC (Source, Message, Channel, dan Receiver) lalu ditambah 3 Proses sekunder, yaitu Feedback, Efek, dan Lingkungan.
1. Source (Sumber), Sumber adalah seseorang yang memberikan pesan atau dalam komunikasi dapat disebut sebagai komunikator. Walaupun sumber biasanya melibatkan individu, namun dalam hal ini sumberjuga melibatkan banyak individu. Misalnya, dalam organisasi, Partai, atau lembaga tertentu. Sumber juga sering dikatakan sebagai source, sender, atau encoder.
2. Message (Pesan), pesan adalah isi dari komunikasi yang memiliki nilai dan disampaikan oleh seseorang (komunikator). Pesan bersifat menghibur, informatif, edukatif, persuasif, dan juga bisa bersifat propaganda. Pesan disampaikan melalui 2 cara, yaitu Verbal dan Nonverbal. Bisa melalui tatap muka atau melalui sebuah media komunikasi. Pesan bisa dikatakan sebagai Message, Content, atau Information
3. Channel (Media dan saluran komunikasi), Sebuah saluran komunikasi terdiri atas 3 bagian. Lisan, Tertulis, dan Elektronik. Media disini adalah sebuah alat untuk mengirimkan pesan tersebut. Misal secara personal (komunikasi interpersonal), maka media komunikasi yang digunakan adalah panca indra atau bisa memakai media telepon, telegram, handphone, yang bersifat pribadi. Sedangkan komunikasi yang bersifat massa (komunikasi massa), dapat menggunakan media cetak (koran, suratkabar, majalah, dll) , dan media elektornik(TV, Radio). Untuk Internet, termasuk media yang fleksibel, karena bisa bersifat pribadi dan bisa bersifat massa. Karena, internet mencakup segalanya. Jika anda membuka www.kuliahkomunikasi.com < maka media ini bersifat massal, namun jika anda chattingh melalui yahoo messenger, maka media ini bersifat interpersonal, dan jika anda menuliskan Blog (blogging atau menulis diary), media ini bisa berubah menjadi media yang bersifat Intrapersonal (kepada diri sendiri).
4. Receiver (Penerima Pesan), Penerima adalah orang yang mendapatkan pesan dari komunikator melalui media. Penerima adalah elemen yang penting dalam menjalankan sebuah proses komunikasi. Karena, penerima menjadi sasaran dari komunikasi tersebut. Penerima dapat juga disebut sebagai public, khalayak, masyarakat, dll.
Elemen Tambahan :
1. Feedback (Umpan Balik), Umpan balik adalah suatu respon yang diberikan oleh penerima. Penerima disini bukan dimaksudkan kepada penerima sasaran (khalayak), namun juga bisa didapatkan dari media itu sendiri. Misal, kita sebagai seorang penulis mengirimkan sebuah artikel kepada suatu media massa. Lalu, bisa saja kita artikel kita ternyata bagus, namun ada beberapa hal yang harus di edit. Sehingga, pihak media mengembalikan artikel kita untuk di edit ulang.
2. Efek, sebuah komunikasi dapat menyebabkan efek tertentu. Efek komunikasi adalah sebuah respon pada diri sendiri yang bisa dirasakan ketika kita mengalami perubahan (baik itu negatif atau positif) setelah menerima pesan. Efek ini adalah sebuah pengaruh yang dapat mengubah pengetahuan, perasaan, dan perilaku (Kognitif, afektif, dan konatif)
3. Lingkungan, adalah sebuah situasi yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu komunikasi. Situasi Lingkungan terjadi karena adanya 4 faktor :
• Lingkungan Fisik(Letak Geografis dan Jarak)
• Lingkungan Sosial Budaya (Adat istiadat, bahasa, budaya, status sosial)
• Lingkungan Psikologis ( Pertimbangan Kejiwaan seseorang ketika menerima pesan)
• Dimensi Waktu (Musim, Pagi, Siang, dan Malam)
 Dalam komunikasi selalu ada tahapan yang dilalui, komunikasi non verbal maupun komunikasi verbal, dalam komunikasi non verbal pada anak tunarungu terjadi penyampaian pesan yang berbeda dengan cara berkomunikasi sebagaimana mestinya, pada teori ini menekankan cara penyampaian pesannya, pada anak tunarungu penyampaian pesannya menggunakan symbol-simbol yang telah dipelajari dalam komunikasi non verbal, alat yang dipakai adalah tangan dan jari jemari mereka.
Jika komunikan mengerti dengan apa yang mereka katakana amaka pesan disampaikan dengan baik tanpa adanya noise, asal penerima pesan bisa menggunakan symbol-simbol atau bahasa anak tunarungu.
Teori Komunikasi Bovee dan Thill:
Bovee dan Thill dalam bukunya Bussiness Communication Today, menjelaskan bahwa proses komunikasi merupakan tahapan dari kegiatan. Terdapat 5 tahapan :
1. Pengirim memiliki sebuah Ide/Gagasan. Komunikasi diawali dengan adanya gagasan dari seorang pengirim, yang ingin disampaikan pada penerima pesan tersebut.
2. Ide Dirubah Menjadi Pesan. Ide bersifat abstrak dan tidak terstruktur, sehingga tidak dapat dibaca oleh oraglain. Maka dari itu, pengirim harus mengubah idenya tersebut menjadi sebuah pesan agar dapat dimengerti oleh orang lain. Perubahan ide menjadi suatu pesan dinamakan ENCODING.
3. Pemindahan Pesan. Setelah sebuah ide diubah menjadi pesan, maka pesan teresebut harus dipidahkan kepada penerima dengan berbagai bentuk komunikasi (Verbal, Nonverbal, Lisan atau Tertulis), dan media komunikasinya (Tatap muka, telepon, surat, laporan, dll)
4. Penerima menerima pesan. Penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterima.
5. Penerima pesan mengirimkan umpan balik. Umpan balik merupakan sebuah elemen perantai pesan. Sebagai pengirim pesan, kita harus mengevaluasi apa yang sebenarnya dipikirkan oleh penerima pesan. Apakah pesan kita efektif apa tidak. Jika pesan kita ternyata tidak efektif, maka pesan harus diulang.
Teori Proksemik dari Hall
Menurut Hall, manusia dapat berkomunikasi dengan berbagaimacam cara, tidak hanya dengan bahasa verbal. Meskipun Hall juga mengakui peranan bahasa salam komunikasi, hanya bahasa yang memberikan peluang bagi pembentukan variasi-variasi komunikasi antarbudaya.
Namun kata Hall banyak kasus belum tentu semua konsep pesan dapat diwakili oleh kata-kata dalam bahasa verbal. Kebebasan manusia telah memungkinkan setiap kelompok budaya untuk menentukan bermacam-macam cara penyampaian pesan. Diantaranya melalaui “bahasa” jarak dan ruang antar tubuh di saat berkomunikasi. Proksemik adalah studi tentang sistematika keterlibatan seorang dalam struktur ruang, atau jarak antara manusia dalam pergaulan sehari-hari
. Definisi tersebut sekaligus menggambarkan bahwa studi tentang ruang atau jarak berkaitan erat dengan interaksi antarmanusia yang berlandaskan pada ciri-ciri budaya tertentu.
 Dengan adanya teori tersebut peneliti kemudian melakukan penelitian tentang komunikasi non verbal, karena komunikasi non verbal yang terjadi pada anak tunarungu berbeda sekali dengan komunikasi-komunikasi yang lainnya. Karena terdapat makna komunikasi yang terkandung dalam symbol-simbol komunikasi pada anak tunarungu.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambara Umum Tentang SDLB Kab. Bangkalan
4.1.1 Lokasi dan Lingkungan Sekitar
Sekolah Dasar Luar Biasa merupakan sekolah luar biasa khusus untuk anak-anak penyandang cacat tuna rungu, terletak di Jalan Trunojoyo (setelah pom bensin socah). Di sebelah Selatan kurang lebih 1 kilometer terdapat Kantor Bupati Bangkalan, SDLB ini berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Universitas Trunojoyo. Jarak antara jalan raya sampai SDLB kurang lebih 1 meter, dan lokasi sekolah ini berdekatan dengan perumahan penduduk yang penduduknya lumayan padat. Gedung SDLB Kab. Bangkalan dan halaman depan terdapat pohon-pohonan yang rindang dan pagar tembok yang tingginya kira-kira dua meter. Halaman depan sekolah cukup luas untuk bermain-main anak-anak SDLB Kab. Bangkalan. SDLB Kab. Bangkalan berjajar dengan perempatan dan lingkungan sekitar perumahan penduduk.
4.1.2 Sejarah Singkat SDLB Kab. Bangkalan
SDLB Kab. Bangkalan berdiri pada tanggal 19 September 1969. Berdirinya SDLB Kab. Bangkalan berawal darikegiatan belajar mengajar yang terdiri dari anak-anak gelandangan yang bertempat di Kantor Sosial Kab. Bangkalan, seiring dengan berjalannya waktu SDLB Kab. Bangkalan juga menerima anak-anak cacat tuna rungu atau tuna wicara. Kegiatan belajar mengajar ini ditangani oleh guru SD sebanyak 5 orang yaitu: Bp Marsuki, Bp Subandi, Bapak Suparto, Ibu Ristamsi, dan Ibu Surtinah. Tanggal 12 Mei 1975 SDLB Kab. Bangkalan menempati gedung baru dengan sarana dan prasarana seadanya 1 gedung 3 ruang yaitu: satu untuk ruang kantor dan dua untuk ruang kelas. Maksud dan tujuan menempati gedung baru yaitu supaya dapat menyelenggarakan, membina dan mengembangkan pendidikan secara khusus bagi anak-anak yang mengalami hambatan belajar karena kurangnya daya dengar, sehingga mereka dapat menikmati kesempurnaan belajar. Tahap demi tahap yayasan mendapatkan bantuan sehingga dapat membangun gedung kelas dan gedung asrama, hingga keadaan sampai sekarang. Pelayanan pendidikan yang dilaksanakan yayasan adalah pelayanan pendidikan bagi anak-anak tuna rungu tingkat dasar, karena pada tahun tersebut banyak ditemukan anak-anak tuna rungu yang belum mendapatkan pendidikan khusus. Dengan harapan anak-anak tuna rungu yang belum mendapatkan pendidikan yang layak dapat dihimpun untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di yayasan tersebut. Seiring dengan dibukanya SDLB Kab. Bangkalan tersebut ada beberapa guru PLB yang melamar menjadi guru yayasan. Pada saat itu,meskipun termasuk sekolah baru, SDLB Kab. Bangkalan tidak mengalami kekurangan siswa maupun guru, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Semenjak mulai didirikan SDLB Kab. Bangkalan tersebut pihak yayasan bersama dengan tenaga edukatif mulai bekerja serius dan dibawah pimpinan Ibu Sri Sujiyanti yang menjabat sebagai Kepala Sekolah tidak henti-hentinya dan selalu memperjuangkan yayasan supaya tetep maju dan berkembang.
4.1.3 Kondisi Siswa SDLB Kab. Bangkalan
Siswa SDLB Kab. Bangkalan pada tahun pelajaran 2009/2010 berjumlah 22 orang dengan perincian sebagai berikut: kelas persiapanada lima orang, kelas 1 ada tiga orang, kelas 2 ada Enam orang, kelas 3 ada empat orang, kelas 4 ada lima orang, kelas 5 tidak ada, kelas 6 tidak ada. Secara lebih rinci keadaan siswa SDLB Kab. Bangkalan tahun pelajaran 2009/2010. Dari 23 anak, mereka berasal dari kota Bangkalan dengan kondisi perekonomian keluarga yang beraneka ragam dari pekerjaan orang tua bermacam-macam pula dari menengah ke bawah sampai menengah ke atas, dari buruh, pegawai, guru, pedagang, maupun wiraswasta. Ditinjau dari waktu terjadinya ketunarunguan, semua ketunarunguan siswa dialami sejak lahir. Hubungan dengan guru, dengan teman tampak sangat baik. Mereka sangat menghormati dan menghargai guru, disiplin dalam berpakaian, dan mau bekerja sama dengan teman, baik pada waktu kegiatan belajar di kelas maupun kegiatan di luar kelas. Hal tersebut terlihat pada saat bertemu dengan guru atau tamu, mereka selalu memberi salam dan berjabat tangan. Berpakaian seragam lengkap dengan atributnya, ikat pinggang, kaos kaki, serta sepatu hitam. Bagi siswa yang telah menamatkan pendidikan di SDLB Kab. Bangkalan dapat melanjutkan pendidikannya di SLTPLB atau sekolah-sekolah terpadu.


4.1.4 Kondisi Guru SDLB Kab. Bangkalan
Tenaga pengajar di SDLB Kab. Bangkalan berjumlah delapan orang,terdiri dari seorang kepala sekolah, empat guru DPK artinya guru PNS yang diperbantukan di SDLB Kab. Bangkalan, dan tiga guru yang diangkat oleh yayasan. Tiga orang guru SDLB Kab. Bangkalan berpendidikan SGPLB-B, tiga orang lagi berpendidikan S1-PKH, dan dua orang berpendidikan SGPLB-C. Hubungan antara guru sangatlah akrab dan penuh kekeluargaan. Mereka sangat ramah dan senang membantu termasuk membantu penulis dalam mengumpulkan data. Sistem pembelajaran yang ditetapkan di SDLB Kab. Bangkalan dengan menggunakan sistem guru kelas. Setiap guru mengajarkan semua mata pelajaran untuk kelasnya, kecuali mata pelajaran olah raga, agama, seni tari. Mata pelajaran olah raga diampu oleh guru bidang studi olah raga yaitu Mulyanto S.Pd. sedangkan mata pelajaran agama diampu oleh Ida Susanti, sedangkan mata pelajaran seni tari diampu oleh Anik Sulistyowati.
4.1.5 Prestasi yang Pernah Diraih
Kecacatan bukanlah suatu halangan untuk meraih prestasi tetapi justru mendorong
dan memacu untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Prestasi yang pernah diraih SDLB Kab. Bangkalan selama tiga tahun terakhir di bidang olah raga, patut dibanggakan karena mereka tidak kalah dengan anak-anak normal. Setiap lomba mereka tidak mau kalah, olah raga tenis meja yang paling menonjol dan disegani lawan. Keberhasilan ini tidak semata-mata dari anak-anak tetapi juga berkat dedikasi guru yang membimbing dengan sabar, dukungan orang tua dan sarana dan prasarana yang sangat mendukung.
4.1.6 Peraturan dan Tata Tertib Sekolah
Tata tertib yang diberlakukan di sekolah diperuntukkan bagi siswa dan guru supaya proses belajar mengajar dapat tercapai semaksimal mungkin. Kelas persiapan sampai tingkat dasar, hari Senin s.d. Kamis pembelajaran berlangsung antara pukul 07.30- 12.00 WIB, hari Jum’at pukul 07.30- 11.00 WIB, dan hari Sabtu pukul 07.30-10.00 WIB. Siswa harus sudah datang sebelum pelajaran dimulai. Siswa persiapan sampai kelas tingkat dasar, pada hari Senin dan Selasa mereka memakai seragam merah putih, hari Rabu dan Kamis memakai seragam dari yayasan, sedangkan hari Jum’at dan Sabtu memakai seragam pramuka. Selama proses belajar mengajar siswa tidak diperkenankan keluar ruangan kelas atau berada di luar kelas. Istirahat ada dua kali yaitu istirahat pertama pukul 09.15- 09.30 WIB dan istirahat kedua pukul 11.00- 11.15 WIB. Selama istirahat siswa hanya boleh jajan di sekitar sekolah dan itu dalam pengawasan guru. Jadwal pelajaran tari dilaksanakan pada hari Jum’at 09.00- 10.30 WIB dan itu diikuti dari kelas persiapan dan tingkat dasar. Setiap hari Senin dan hari-hari peringatan nasional, sekolah mengadakan upacara bendera yang wajib diikuti oleh guru dan siswa, dengan petugas para siswa. Para guru juga diberlakukan aturan yang sama dengan para siswa. Para guru diharuskan memakai seragam. Sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai guru harus sudah datang.
4.2 Makna Komunikasi Non Verbal Pada Anak Tunarungu
4.2.1 Komunikasi Non Verbal
Komunikasi Non Verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, intonasi nada (tinggi-rendahnya nada), kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan-sentuhan. Komunikasi non Verbal mempunyai kekuatan yang penting untuk menyampaikan pesan-pesan. Khususnya dalam penelitian yang penulis teliti di lapangan bertempat di SDLB Kab. Bangkalan, komunikasi non verbal sangat penting bagi anak penyandang cacat tuna rungu khususnya di SDLB Kab. Bangkalan. Komunikasi non verbal bagi anak tunarungu mempunyai banyak arti. Dalam konteks tersebut komunikasi non verbal bisa dilakukan dengan isyarat jari, ekspresi wajah, gerakan tangan serta bahasa tubuh dan masih banyak komunikasi non verbal lainnya yang sering digunakan anak penyandang cacat tunarungu.
Salah satu cara mendefinisikan komunikasi non verbal adalah berdasarkan kategori sebagai berikut:
a.Proksemik
Proksemik merupakan penyampaikan pesan-pesan melalui pengaturan jarak dan ruang. Manusia mempunyai wilayah-wilayah atau zona dalam berkomunikasi, wilayah juga berarti daerah atau ruang yang rang klaim sebagai miliknya, yang seolah-olah merupakan perluasan dari tubuhnya,
b.Kinesik
Kinesik merupakan penyampaikan pesan-pesan yang menggunakan gerakan gerakan tubuh yang berarti yang meliputi mimik wajah, mata (lirikan-lirikan), gerakan-gerakan tangan dan yang terakhir keseluruhan anggota badan (tegap, lemah gemulai dan sebagainya). Dalam budaya jawa komunikasi non verbal sangat kental dilakukan terutama untuk menghormati orang, atau orang yang lebih tua, semisal gerakan komunikasi yang dilakukan antara atasan dan bawahan atau abdi di mana bawahan atau abdi cenderung untuk menunduk dan merunduk untuk menunjukkan bahwa posisinya tidak lebih tinggi dari tuannya yang diajak bicara.
c. Khronemik
Khronemik adalah srudi mengenai penggunaan kita akan konteks waktu. Ide mengenai kelinearan waktu telah diterima secara luas oleh masyarakat manapun bahkan agama manapun, hal ini kemudian melahirkan beberapa istilah sepertti masa lalu, saat ini dan masa depan yang merupakan suatu urutan yang tidak dapat dibalik.
4.2.2 Tunarungu
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB), Gangguan pendengaran ringan(41-55dB), Gangguan pendengaran sedang(56-70dB), Gangguan pendengaran berat(71-90dB), Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB). Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak. Anak dengan gangguan pendengaran (tuna rungu) seringkali menimbulkan masalah tersendiri. Menurut Mangunsong, ( 1998 : 66 ) yang dimaksud dengan ”anak tuna rungu adalah mereka yang
pendengarannya tidak berfungsi sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan luar biasa”. Menurut Moores (1987) dalam Mangunsong, (1998 : 68) ”ketunarunguan adalah kondisi dimana individu tidak mampu mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, baik dengan derajat frekuensi dan intensitas”. Secara khusus ketulian didefinisikan sebagai gangguan pendengaran yang sangat parah sehingga anak mengalami kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu, sehingga berpengaruh pada prestasi pendidikan. Menurut Mangunsong, (1998 : 68 - 69) berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran yang ditunjukkan dalam satuan desibel (dB), tuna rungu dibagi dalam lima kelompok berikut :
Kelompok 1 : Hilangnya pendengaran yang ringan ( 20 – 30 dB). Orang-orang yang kehilangan pendengaran sebesar ini mampu berkomunikasi dengan menggunakan pendengarannya. Gangguan ini merupakan ambang batas (borderline) antara orang yang sulit mendengar dengan orang normal.
Kelompok 2 : Hilangnya pendengaran yang marginal ( 30 – 40 dB).
Orang-orang dengan gangguan ini sering mengalami kesulitan untuk mengikuti suatu pembicaraan pada jarak beberapa meter. Pada kelompok ini, orang-orang masih bisa menggunakan telinganya untuk mendengar namun harus dilatih.
Kelompok 3 : Hilangnya pendengaran yang sedang ( 40 – 60 dB). Dengan bantuan alat bantu dengar dan bantuan mata, orang-orang ini masih bisa belajar berbicara dengan mengandalkan alat-alat pendengaran.
Kelompok 4 : Hilangnya pendengaran yang berat ( 60 – 75 dB ). Orang –orang ini tidak bisa belajar berbicara tanpa menggunakan teknik-teknik khusus. Pada gangguan ini mereka sudah dianggap sebaga tulis secara edukatif. Mereka berada pada ambang batas sulit mendengar dengan tuli.
Kelompok 5 : Hilangnya pendengaran yang parah ( > 75 dB). Orangorang yang dalam kelompok ini tidak bisa belajar bahasa hanya sematamata dengan mengandalkan telinga. Meskipun didukung dengan akal bantu dengar sekalipun. Menurut pembagian tingkat kehilangan pendengaran tersebut di atas, kelompok 1, 2 dan 3 tergolong sulit mendengar. Sedangkan kelompok 4 dan 5 tergolong tuli.
Berdasar uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak tuna rungu adalah individu yang mengalami gangguan pendengaran dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, baik dengan derajat frekuensi dan intensitas sehingga anak mengalami kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu.


Tanda-tanda peringatan kemungkinan tunarungu [1]:
Kurang perhatian
Perkembangan bicara yang kurang
Kesulitan mengikuti instruksi
Menanggapi lebih baik pada pekerjaan tugas ketika guru tersebut cukup dekat dengan si anak atau lebih baik pada tugas menulis daripada tugas lain yang memerlukan respons secara lisan
Anak mengamati apa yang sedang dilakukan teman lainnya sebelum mulai pekerjaannya sendiri [mencari petunjuk]
Meminta temannya dan guru untuk berbicara lebih keras
Menjawab tidak tepat atau gagal untuk menjawab
Anak mungkin kelihatan malu, menarik diri atau terlihat keras kepala dan tidak menurut
Menolak untuk berpartisipasi dalam aktivitas lisan, tidak tertawa terhadap lelucon
Sering mengeluh sakit telinga, pilek, radang tenggorokan

► Oleh karena anak penyandang cacat tuna rungu tidak bisa bicara dan mendengar mereka menggunakan komunikasi non verbal, komunikasi non verbal dipelajari dan diajarkan di SDLB Kab. Bangkalan. Seperti halnya Isyarat Jari, dalam isyarat jari ada simbol dan arti tertentu. Isyarat jari itulah bahasa non verbal yang digunakan dalam penyampaian pesan penyandang cacat tunarungu. Mengajar anak dengan dan tanpa tunarungu di kelas yang sama sering kali menjadi satu cara masyarakat dalam mendidik anak tunarungu. Akan tetapi penulis sangat kagum dan salut terhadap kegigihan dan semangat yang tinggi oleh siswa SDLB Kab. Bangkalan. Meskipun mereka menyandang cacat tapi untuk belajar mereka tidak mau kalah dengan yang lain. Maka dari itu pemerintah harus lebih memperhatikan keberadaan SDLB Kab. Bangkalan yang di dalamnya terdapat tunas-tunas bangsa yang siap memajukan bangsa ini. Maka dari itu awal atau dasar dari anak tunarungu adalah bahasa komunikasi non verbal. Penting juga mempersiapkan yang lainnya di sekolah seperti para guru dan murid lainnya tentang tunarungu dan tentang bagaimana cara anak ini belajar adalah dengan melihat sebaik-baiknya. Dengan cara ini semua orang di sekolah dapat bersiap menyambut anak-anak tunarungu. SDLB Kab. Bangkalan mengajarkan bahasa isyarat kepada semua orang dengan demikian anak tunarungu tidak ada yang tertinggal.
 

Contoh Huruf-huruf Isyarat


 
Bilangan Sign Language Alphabet:
Hereunder figures of numerical characters: Bawah angka karakter numerik:

Sign Language Alphabet Numbers Sign Language Alphabet Numbers
Numbers: Bilangan:


Sign Language Alphabet: Sign Language Alphabet:
Hereunder figures of alphabetical characters: Bawah angka karakter abjad:


Sign Language Alphabet
Isyarat jari diatas seringkali digunakan oleh siswa SDLB Kab. Bangkalan ketika berkomunikasi dengan teman maupun guru-guru disana. Akan tetapi isyarat tersebut tidak sembarang isyarat, isyarat jari tersebut juga biasanya di artikulasikan oleh penyandang tuna rungu. Artikulasi merupakan proses penyesuaian ruangan supraglottal yang tujuannya untuk memodifikasi bunyi suara laryngeal menjadi suara bicara. Penyesuaian ruangan didaerah laring terjadi dengan menaikkan dan menurunkan laring,mengatur jumlah transmisi udara melalui rongga mulut dan rongga hidung melalui katup velofaringeal dan merubah posisi mandibula (rahang bawah) dan lidah. Proses diatas yang akan menghasilkan bunyi dasar dalam berbicara.
Sebagaimana kita tahu bahwa anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara (spt:tunarungu, afasia perkembangan, autisma, dsb) tentunya akan mengalami kegagalan dalam berartikulasi. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan maturasi organ artikulasi, maka untuk mencapai kemampuan artikulasi yang baik diperlukan oral motor exercise terlebih dahulu. Latihan oral motor bertujuan untuk menguatkan otot-otot organ artikulasi.
Setelah kita melakukan stimulasi oral motor maka kita mulai melakukan produksi suara/bunyi vocal, suku kata, kata dst melalui sensor auditory,visual dan taktil kinestetik.
Ditinjau dari bidang fonologi bahasa dikelompokan atas vocal(vokoid) dan bunyi konsonan (kontoid).Dalam bahasa Indonesia bunyi vocal terbagi atas 6 bunyi yaitu /a/,/i/,/u/,/e/,/o/,dan /?/ .Sedangkan bunyi konsonan ditentukan oleh cara pengucapan (manner of articulation) dan titik pengucapan (point of articulation). Ditinjau dari cara pengucapan,bunyi konsonan digolongkan dalam :
1.Konsonan plosif : /t/,/d/,/p/,/b/,/k/,/g/
2.Konsonan frikatif : /f/,/s/,/z/
3.Konsonan afrikat : /c/,/j/
4.Konsonan getar : /r/
5.Konsonan nasal :/n/
6.Konsonan semi-vokal : /w/
7.Konsonan lateral : /l/
Berdasarkan titik artikulasi,bunyi konsonan digolongkan menjadi :
1.Konsonan bilabial : /p/,/b/,/m/
2.Konsonan labio dental : /f/,/v/,/w/
3.Konsonan apiko dental : /t/
4.Konsonan apiko alveolar : /n/,/l/,/r/
5.Konsonan apiko palatal : /d/
6.Konsonan lamino alveolar : /s/,/z/
7.Konsonan medio palatal : /c/,/g/,/ny/
8.Konsonan dorso velar : /k/,/g/,/ng/,/x/

Tidak semua anak tuna rungu memakai ABD dan kemampuan mendengar dengan ABD sendiri berbeda tergantung dari tingkat gangguan pendengaran dan latihan mendengar yang diiukuti. Untuk memperbaiki bicara anak perlu dilakukan latihan artikulasi dimana tidak semua sekolah memasukkan dalam salah satu mata pelajarannya. Pada latihan artikulasi anak belajar secara individu di ruangan khusus dengan satu orang guru artikulasi. Lama waktu belajar sekitar 20-30 menit setiap harinya. Setiap anakpun berbeda berdasarkan kemampuan intelejensinya. Pada buku Pembinaan Bahasa Anak Tuli dengan sistem 350 kata, terdapat cara untuk mengajar artikulasi. Bisa kita pakai untuk mengajarkan kepada anak kita di rumah sebagai kesinambungan dengan pelajaran yang di berikan di sekolah. Anak belajar tidak hanya di sekolah sebagai tanggung jawab guru, akan lebih baik jika di rumah pun belajar lebih mengeksplorasi kemampuan anak.
Bahan Pelajaran Artikulasi dari buku Pembinaan Bahasa anak Tuli :
Pada umumnya bagi anak tuna rungu suara ujaran vocal lebih mudah diucapkan daripada konsonan. Sebagai latihan pertama diberikan latihan senam mulut (mouth-training). Anak disuruh meniru mengucapkan vocal dasar berturut-turut, yaitu a/i/u/e/o berulang tanpa terputus. Vokal a yang paling mudah diucapkan sehingga diajarkan yang pertama kali. Untuk anak yang dapat mendengar mereka akan meniru dengan mengeluarkan suara a, bagi yang tidak di Bantu dengan menggetarkan pita suaranya. Tangan anak diletakkan pada leher kita untuk mengetahui bahwa ada getaran di situ. Setelah itu huruf vokal selanjutnya.
Untuk konsonan ada pembagian beberapa karakter berdasarkan asal keluarnya huruf
- konsonan bilabial (p/b/m) merupakan konsonan bibir, cara melatihnya usahakanlah agar konsonan itu tempatnya berubah-ubah dari di muka-di tengah-di belakang
contoh : p papa apa map

b babi aba bab
m mama oma bom
- konsonan dental (t/d/n) seperti halnya bilabial, cara melatihnya pun dengan pola yang sama
- konsonan langit-langit lembut (k,g,ng) konsonan bilabial dan dental cara melafalkannya dapat terlihat langsung oleh anak. Konsonan langit-langit lembut sukar dilihat, oleh karena itu perlu kita beri petunjukuntuk memudahkan anak dalam meniru mengucapkannya. Mulai dari pembentukkan ng dengan mempergunakan m sebagai alat yang sudah dikenal. Selagi m diucapkan bukalah bibir dan rahang anak perlahan. Untuk g dan k agak sulit untuk mengatasinya biarkanlah sementara waktu sehingga k nya lancar di ucapkan. Untuk menyuarakan g, berilah latihan vocal, konsonan, vocal berkali kali Contoh : a k a (a g a) Kaki kakak kaku Gigi gaga gugu Gigi tang nganga Walaupun telah belajar artikulasi belum dapat dijamin bahwa anak tentu betul mengucapkannya. Perlu di ingat, bahwa anak tetap tuli/kurang pendengaran, Mereka tidak mempunyai control untuk ucapannya sendiri. Lebih lagi dalam membaca kalimat yang panjang, ucapannya dapat lebih kabur lagi. Maka satu-satunya jalan ialah, segala sesuatu harus selalu diulang. Makin banyak diulang, makin lebih baik.
4.3 Hambatan Anak Tuna Rungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal
Dari hasil pengamatan dan hasil wawancara dalam penelitian ini peneliti sengaja mengambil permasalahan tentang Hambatan Anak Tuna Rungu di SDLB Kab. Bangkalan ketika menggunakan komunikasi non verbal. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mengadakan wawancara kepada Kepala Sekolah, guru bidang studi, dan orang tua siswa masingmasing. Di sekolah tersebut ada mata pelajaran yang memberikan pengajaran tentang Isyarat Jari juga sering diajarkan, bahkan mungkin setiap hari. Dari Ibu Kepala Sekolah sangat antusias dan senang kalau peneliti terjun langsung melihat cara guru mengajar di SDLB Kab. Bangkalan. Penulis juga melakukan awancara dengan orang tua siswa merasa terharu dan bangga anaknya bisa mengikuti pelajaran dengan seperti halnya anak normal. Dari hasil wawancara langsung peneliti dengan siswa, sebagian suka dengan pelajaran yang menerangkan bahasa isyarat akan tetapi penerapannya agak susah karena. Motivasi dan kesabaran sangat diutamakan dalam pembelajaran bahasa Isyarat bagi anak cacat yaitu siswa SDLB Kab. Bangkalan. Motivasi terus diberikan hal ini sebagai pendorong minat siswa dalam mempelajari isyarat jari. Kesabaran seorang guru dalam membimbing siswa akan lebih memberi nilai arti lebih bagi diri siswa untuk tidak malu dan mampu memperlihatkan dirinya tidak kalah dengan yang normal. Dukungan guru-guru lain dan Kepala Sekolah menambah keberanian siswa dalam berlatih. Dorongan dan kasih sayang orang tua yang selalu mengiringi anaknya menatap masa depan. Kemampuan guru dalam meggunakan metode mengajar yaitu dengan cara mengkombinasikan beberapa metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang dapat mendukung dalam proses belajar mengajar. Keberhasilan dalam melaksanakan suatu pengajaran sebagian besar ditentukan oleh pilihan bahan dan pemakaian metode yang tepat, penggunaan metode yang tepat dan sesuai tersebut dikarenakan pengalaman guru yang lebih dari 15 tahun dalam kegiatan mengajar di SDLB.Kesulitan belajar bagi siswa yang kurang karena kecacatan yang jelas terlihat yaitu tuna rungu, sehingga siswa terhambat dalam pendengaran. Kesulitan guru pun juga tampak karena guru sudah menyampaikan materi tapi siswa belum tentu bisa menangkap apa yang diajarkan guru, karena terhambat dalam pendengaran. Oleh karena itu, guru harus menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi atau penyampaian materi, akan tetapi sebagian kecil siswa SDLB Kab. Bangkalan susah untuk menerapkan isyarat jari. Dalam hal ini peneliti
terjun langsung melihat cara guru mengajar Sragen. Kesulitan guru dalam mengajar tari terlihat jelas misalnya: denganjelas siswa yang diajar adalah anak-anak cacat tuna rungu maka dalam menerima pelajaran tidak bisa menangkap dengan cepat karena siswa terhambat dalam pendengaran, jadi dalam penyampaian materi guru harus mengulang-ulang materi yang disampaikan ke siswa sampai siswa benar-benar bisa. Siswa yang sulit menerima pelajaran, maka guru itu pun juga ikut sulit dalam menyampaikan materi, dalam penyampaian materi guru memberi contoh di depan dan siswa mengikuti, setelah itu guru baru memperbaiki gerakan anak satu persatu. Bagi anak yang cacat pendengarannya total maka guru harus sabar dan berulang-ulang mengajarnya karena materi yang disampaikan guru belum tentu anak itu langsung bisa menerima pelajaran. Kesulitan guru dalam menyampaikan materi adalah guru sudah melakukan semaksimal mungkin menyampaikan materi pelajaran,tetapi siswa tidak memperhatikan maka guru
harus mengulang lagi pelajaran itu. Kesulitan mengajar bagi guru merupakan suatu tantangan dalam menyampaikan materi supaya anak tetap mau menghafal isyarat jari yang diajarkan demi terciptanya komunikasi yang lancar antara guru dan murid. Penyandang cacat fisik pada umumnya juga banyak menghadapi tantangan yang berat daripada orang normal, karena penyandang cacat fisik mau tidak mau harus menyesuaikan diri terhadap kecacatan yang dialaminya. Kesulitan dan hambatan sangat dirasakan bagi anak yang cacat. Sulit menyesuaikan diri, sulit berteman dan sulit menerima pelajaran. Kesulitan guru dalam mengajar dapat diatasi dengan kesabaran dan
memberi contoh berulang-ulang dan memberi dorongan atau sanjungan kepada siswa, begitu pula bagi siswa, siswa bersemangat atau percaya diri bila orang-orang terdekatnya memberikan dorongan atau support.

















BAB V
PENUTUP

5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut :
5.1.1 Makna Komunikasi Non Verbal pada anak tuna rungu meliputi tujuan, materi dan bahan, metode, media, dan evaluasi.
5.1.2 Kesulitan yang dialami oleh guru dalam di SDLB Kab. Bangkalan meliputi:
a. Siswa tidak memperhatikan pelajaran karena daya dengar siswa yang kurang. Oleh karena itu, pmbelajaran tidak dapat berjalan secara efektif.
b. Para siswa juga sangat lambat dalam menerapkan komunikasi non verbal dalam bahasa menggunakan isyarat jari, akan tetapi para guru di SDLB Kab. Bangkalan tetap semangat memberi motivasi..
5.1.3 Makna Komunikasi non verbal pada anak tuna rungu ( study kasus siswa SDLB kab. Bangkalan) sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari agar para siswa dapat berkomunikasi dengan lancar.
5.1.4 Komunikasi non verbal adalah bahasa utama para siswa SDLB Kab. Bangkalan untuk menyampaikan pesan pada komunikan.
5.1.5 Komunikasi non verbal adalah satu-satunya alat untuk mengantarkan para siswa di gerbang kesuksesan, nukan berarti mereka penyandang cacat tunarungu akan tetapi mereka tidak bisa sukses selayaknya orang normal. Malah sebaliknya banyak penyandang cacat sukses meraih masa depannya. Sebaiknya anak tunarungu selalu diberi motivasi dan semangat. Sebenarnya mereka itu sama seperti kita semua akan tetapi hanya ada salah satu organ tubuhnya yang tidak berfungsi dengan sempurna. Tetapi otak dan pikiran mereka sebenarnya sama.





5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan kesimpulan diatas maka peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut :
a. Bagi Orang Tua
Bagi orang tua yang memiliki penerimaan terhadap anak tuna rungu dalam kategori tinggi hendaknya tetap dipertahankan, sedangkan bila orang tua yang kurang dapat menerima anaknya diharapkan dapat peduli dan perhatian terhadap anaknya serta menyadari bahwa dirinya adalah orang tua dari anak tuna rungu, dengan demikian orang tua dapat bersikap realistis terhadap kecacatan anaknya sehingga lebih sabar dalam
menghadapi anaknya yang tuna rungu. Serta lebih giat dan berusaha keras untuk mengajarkan komunikasi non verbal ketika di rumah. Jadi bukan hanya guru saja yang berperan aktif, sebaliknya orang tua juga harus ikut berperan aktif dalam membantu siswa SDLB memahami makna komunikasi non verbal.
b. Bagi Anak Tuna Rungu
Anak tuna rungu yang telah mampu menerapkan komunikasi non verbal dalam bahasa sehari-hari harus lebih semangat lagi dalam memahami serta menerapkannya.
c. Bagi Guru
Guru tidak hanya mengajar, akan tetapi juga memahami arti pentingnya makna komunikasi non verbal pada anak tunarungu di sekolah. Guru juga secara bertahap memberikan wawasan kepada orang tua tentang pentingnya penerimaan orang tua yang memiliki anak tuna rungu dalam proses pembelajaran komunikasi non verbal..
d. Bagi Peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian yang sejenis, disarankan untuk mengacu pada jumlah sampel yang lebih besar dan mengkaji mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian diri anak tuna rungu di sekolah, serta penggunakan bahasa non verbal sebagai bahasa sehari-hari















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 JENIS PENELITIAN
Penelitian merupakan suatu proses yang panjang. Berawal dari minat untuk mengetahui fenomena tertentu dan selanjutnya berkembang menjadi gagasan, teori, konseptualisasi, pemilihan metode penelitian yang sesuai dan seterusnya ( effendi, 1987: 12 )
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Pada umumnya alas an menggunakan metode kualitatif karena permasalahan belum jelas, holistic, kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi social tersebut dijaring.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif yaitu suatu jenis penelitian yang akan hanya meluruskan keadaan obyek persoalan dan tidak dimaksudkan untuk mengambil kesimpulan yang berlaku umum.
3.2 OBYEK PENELITIAN
Obyek penelitian dalam penelitian ini adalah SDLB Kab. Bangkalan.
3.3 INSTRUMENT PENELITIAN
Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrument utama adalah peneliti sendiri.
3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data kualitatif paling utama adalah observasi participant, wawancara mendalam studi dokumentasi ( in- depth interview ), dan gabungan ketiganya atau triangulasi.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara mendalam studi dokumentasi yaitu proses melakukan tanya jawab terhadap narasumber sambil bertatap muka antara peneliti dan dari SDLB Kab. Bangkalan. Dalam metode ini wawancara dilakukan secara berulang atau berulang kali sehingga mendapatkan data yang valid.
Dalam metode pengumpulan ini, data dibedakan menjadi dua:
 Data Primer: data utama dalam penelitian ini, dalam penelitian ini data utama adalah guru yang mengajar murid SDLB Kab. Bangkalan, karena para guru tersebut mengetahui bagaimana muridnya berkomunikasi secara non verbal. Jadi narasumber dalam penelitian adalah guru
 Data sekunder: data sekunder adalah data tambahan, data sekunder dalam penelitian ini adalah referensi yang diambil dari browsing lewat internet serta buku-buku tentang komunikasi non verbal dan tentang tunarungu.
3.5 TEKNIK ANALISIS DATA
Dalam penelitian kualitatif deskriptif ini teknik analisis data lebih banyak dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Tahapan dalam penelitian kualitatif adalah tahap memasuki lapangan dengan grand tour dan minitour question, dan biasanya analisis datanya dengan analisis domain. Tahap ke dua adalah menentukan focus, teknik pengumpulan data dengan minitour question, analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Selanjutnya pada tahap selection, pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan structural.
 VALIDITAS DAN RELIABILITAS PENELITIAN KUALITATIF
Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antar data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Kalau dalam obyek peneltian ini makna komunikasi non verbal, maka penelti akan melaporkan juga tentang makna komunikasi non verbal.
Terdapat dua macam validitas penelitian, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal berkenaan dengan derajad akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajad akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisaisikan atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut diambil. Bila sampel penelitian representatife, instrument penelitian valid dan reliable, cara mengumpulkan dan analisis data benar, maka penelitian akan memiliki validitas eksternal yang tinggi.
Sedangkan reliabilitas berkenaan dengan derajad konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Kalau peneliti satu menemukan dalam obyek berwarna merah, maka peneliti yang lain juga demikian. Kalau seorang peneliti dalam obyek kemarin menemukan data berwarna merah, maka sekarang atau besok juga akan berwarna merah. Intinya siapapun penelitinya data yang didapat akan sama dengan penelti-peneliti sebelumnya. Suatu data yang reliable atau konsisten akan cenderung valid, walaupun belum tentu valid. Orang yang berbohong secara konsisten akan terlihat valid, walaupun sebenarnya tidak valid.

Kamis, 28 Januari 2010

AUDISI CSR

Kamis ( 28/01/2010), Telkom Lamongan mengadakan seleksi CSR (customer Service Representative). Bertempat di gedung Kancatel Lamongan seleksi ini diadakan mulai dari pukul 09.00-12.00 WIB. CSR ini berfungsi untuk melayani pelanggan telkom yang mempunyai keluhan, semua keluhan yang ada pada pelanggan adalah tugas dari CSR ini. Seleksi ini sangat ketat, karena dari sekian banyak pendaftar yang diambil hanya 4 orang saja, itupun harus diseleksi lagi oleh tim seleksi antara lain ibu Wiwit Cariwati selaku Junior Catel Lamongan dengan bapak Muljadi, SH selaku AJM service LMG dan dibantu oleh tim seleksi lainnya. Menjadi seorang CSR harus memenuhi beberapa persyaratan, tidak hanya cantik tetapi harus mempunyai 3B yaitu: Brand, Beauty, Behaviour.
Seorang CSR juga harus menempuh studi S1 atau D3. Disebabkan kontrak CSR yang lama telah habis maka dari itu Kancatel Lamongan mengadakan audisi kembali pada January 2010 ini, kontrak CSR ini berlaku selama 2 tahun dan CSR yang lama tidak boleh mengikuti seleksi kembali. Pengumuman hasil akhir CSR yang diterima akan diumumkan hari ini secara tertutup oleh panitia.

Sabtu, 02 Januari 2010

ARTIKEL RADIO

RADIO

Definisi Radio:
Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).

Sejarah
Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali dijelaskan pada tahun 1873 oleh James Clerk Maxwell dalam papernya di Royal Society mengenai teori dinamika medan elektromagnetik berdasarkan hasil kerja penelitian yang dikerjakan antara antara 1861 dan 1865.
Untuk pertama kalinya, Heinrich Rudolf Hertz membuktikan teori Maxwell yaitu antara 1886 dan1888, melalui eksperimen. Dia berhasil membuktikan bahwa radiasi gelombang radio memiliki sifat-sifat gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan (dirumuskan) ke dalam persamaan gelombang.

Peranan dan Fungsi Radio dalam Kehidupan Sehari-hari
Radio (istilah secara umum) dalam kehidupan sehari hari digunakan sebagai sarana penyampai informasi. Suara yang kita dengar dari pesawat radio merupakan perubahan bentuk energi elektromagnetik dari gelombang radio yang ditangkap oleh pesawat radio, kemudian diubah melalui loudspeaker (pengeras suara) menjadi energi bunyi sehingga bisa kita dengar.
Suara yang kita dengar dari pesawat radio bisa berisi tentang hiburan, misalnya musik, humor serta berita dan berbagai informasi lainnya. Jadi penyebutan istilah RADIO pada umumnya masih rancu. Pengertian pertama adalah: alat/pesawat untuk mengubah gelombang radio menjadi gelombang bunyi/suara. Sedang pengertian lainnya adalah
gelombang radio yang merupakan bagian dari gelombang elektromagnetik.

Keuntungan dari Radio
Dapat menjangkau hampir seluruh warga negara dalam masyarakat, setiap waktu, setiap tempat, dan melibatkan siapa saja (bahkan orang buta huruf) serta di mana saja.
Pendengar radio tidak harus tetap berada di depan pesawat radionya, tidak seperti halnya menonton televisi.
Ini berarti mendengarkan radio dapat dilakukan sembari melakukan hal-hal lainnya, berpindah tempat, tetapi harus tetap dengan konsentrasi tinggi. Hal ini berarti lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal lainnya, sambil dapat mendengarkan/ menikmati suara radio. Ini juga berarti bahwa makin banyak pendengar yang dapat dijangkau sementara mereka masih tetap dapat bekerja sesuai tanggung jawab pekerjaannya.
Radio adalah media elektronik termurah, baik pemancar maupun penerimanya. Ini berarti terdapat ruang untuk lebih banyak stasiun radio dan lebih banyak pesawat penerima dalam sebuah perekonomian nasional. Dibandingkan dengan media lain, biaya yang rendah sama artinya dengan akses kepada pendengar yang lebih besar dan jangkauan lebih luas kepada kaum dengan tingkat ekonomi yang rendah.

Dampak Negatif dari penggunaan Radio
1. Radiasi gelombang radio dapat menimbulkan induksi gelombang elektromagnetik.
2. Induksi gelombang elektromagnetik dapat mempengaruhi ion positif dan ion negatif di sekeliling pancaran radiasinya.
3. Di dalam tubuh manusia, terkandung ion-ion yang bermuatan positif maupun negatif.
4. Muatan (ion) positif dan negatif di dalam tubuh terjadi keseimbangan apabila tidak mendapat pengaruh terutama dari radiasi gelombang elektromagnetik.
5. Apabila pengaruh radiasi tersebut melebihi batas ambang yang dapat diterima oleh tubuh manusia, maka akan terjadi ketidakseimbangan muatan (ion) di dalam tubuh manusia yang akan berakibat pada terganggunya fungsi-fungsi organ tubuh atau metabolisme dalam tubuh manusia.

6. Apabila hal ini terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama maka kesehatan
orang tersebut akan terganggu (sakit).

Macam-Macam Radio
Radio Tahun 1970 - 1980 an

Radio Tahun 1990-2000 an

Radio masa sekarang










Radi dibagikan menjadi dua:
1. Radio Komunitas
2. Radio Swasta

Perbedaan Radio Komunitas dengan Radio Swasta
Ada beberapa perbedaan antara radio komunitas dengan radio swasta yaitu, pengelolaan radio Komunitas berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan bersama warga sedangkan pengelolaan radio swasta berdasarkan hasil rating oleh surveyor dan juga selera/kreativitas pengelola. Radio komunitas mengutamakan kepentingan dan kebutuhan warga di wilayah tempat radio tersebut sedangkan radio swasta diarahkan kepada segmen pasar yang disasar. Dalam siarannya radio komunitas menyajikan tema-tema yang dibutuhkan warga setempat sedangkan radio swasta mengikuti keinginan dan selera pasar. Bahasa penyiar dalam radio komunitas mengikuti dialek lokal dan kebiasaan berbicara setempat sedangkan radio swasta cenderung mengikuti gaya bicara orang kota (Jakarta).
Perkembangan di Indonesia
Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 300 radio komunitas. Radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian di antaranya telah mengorganisasikan diri dalam oraganisasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Jaringan Independen Radio Komunitas (JIRAK CELEBES), dan lain-lain.

Jaringan Radio Komunitas Indonesia
Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dideklarasikan pada tahun 2002. Di dalam organisasi JRKI terdapat jaringan radio komunitas daerah yaitu JRK Sumatra Barat, JRK Lampung, JRK Jabotabek & Banten, JRK Jawa Barat, JRK Jawa Tengah, JRK Yogyakarta, JRK Jawa Timur, JRK Bali, JRK Lombok, JRK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, dan JRK Papua. Agenda utama JRKI adalah advokasi terhadap penyiaran komunitas di Indonesia menuju demokratisasi penyiaran Radio komunitas sampai saat ini masih menghadapi kesulitan di regulasi. Setelah mendapat pengakuan dari UU Penyiaran tahun 2002, regulasi yang berada di bawahnya seperti Peraturan Pemerintah[1] yang mengatur lebih detail soal perizinan atau frekuensi masih belum mendukung perkembangan radio komunitas.
Peran dan fungsi
Radio komunitas sebagai salah satu bagian dari sistem penyiaran Indonesia secara praktek ikut berpartisipasi dalam penyampaian informasi yang dibutuhkan komunitasnya, baik menyangkut aspirasi warga masyarakat maupun program-program yang dilakukan pemerintah untuk bersama-sama menggali masalah dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya. Keberadaaan radio komunitas juga salah satunya adalah untuk terciptanya tata pemerintahan yang baik dengan memandang asas-asas sebagai berikut:
Hak asasi manusia
Bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggungjawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaraan menggunakan hak antarelemen di Indonesia.
Keadilan
Bahwa untuk menjaga integrasi nasional, kemajemukan masyarakat dan terlaksananya otonomi daerah maka perlu dibentuk sistem penyiaran nasional yang menjamin terciptanya tatanan system penyiaran yang adil, merata dan seimbang guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pengelolaan, pengalokasian dan penggunaan spektrum frekuensi radio harus tetap berlandaskan pada asas keadilan bagi semua lembaga penyiaran dan pemanfaatannya dipergunakan untuk kemakmuran masyarakat seluas-luasnya, sehingga terwujud diversity of ownership dan diversity of content dalam dunia penyiaran.
Informasi
Bahwa lembaga penyiaran (radio) merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal di masyarakat, memiliki kebebasan dan tanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol serta perekat sosial.
Radio Based Community Development and Disaster Risk Reduction
Peran radio komunitas telah dikembangkan menjadi sarana pengembangan komunitas dan program pengurangan resiko bencana. Program ini dikembangkan oleh Dompet Dhuafa Republika, sebuah lembaga pemberdaya yang dikenal luas dalam upaya pemberdayaan masyarakar marjinal dan penanganan bencana. Pada pelaksanannya Dompet Dhuafa bekerjasama dengan radio komunitas dan RRI.
Sebagai Promosi Budaya Lokal
radio komunitas memliki peran yang cukup penting dalam mempromosikan budaya lokal tempat radio komunitas didirikan. Radio Primadona FM, Bayan, Lombok Barat menyelenggarakan acara Selemor Hate, acara yang seluruhnya menggunakan bahasa dan lagu-lagu lokal dan menceritakan sejarah masa lalu desa dan wilayah setempat.

Sebagai Kontrol Pembangunan
Peran radio komunitas juga mempunyai fungsi kontrol terhadap kinerja pemerintah didaerah tempat radio komunitas didirikan. Sebagai contoh, Radio Ampera 29,45 FM di Sekotong, dan Radio Rakola FM, di Labuapi, Lombok menyiarkan beberapa berita temuan (hasil investigasi lapangan) mereka terhadap pelaksanaan program-program pembangunan di wilayahnya, terutama berkaitan dengan proyek-proyek dari luar (pemerintah, bantuan luar negeri seperti PPK dan sebagainya). Berita-berita yang dilansir terutama untuk memberikan informasi tentang perkembangan pembangunan wilayahnya, termasuk membangun transparansi penggunaan dana program dan implementasinya di lapangan.
Diversivikasi Media Radio Komunitas Untuk melakukan mempererat hubungan dan tukar-menukar informasi antar radio komunitas maka CRI (Combine Resource Institution) memperkenalkan sistem informasi antar komunitas yang disebut dengan SIAR (Saluran Informasi Akar Rumput). Sistem ini menghubungkan radio-radio komunitas melalui teknologi internet sehingga selain siaran mereka juga meng-upload materi siara melalui web suara komunitas[3].

Kendala Radio Komunitas
Keterbatasan Frekuensi dan Jangkauan
Radio komunitas saat ini hanya diperbolehkan beroperasi pada tiga kanal. Menurut ketentuan Kepmenhub no 15 tahun 2002 dan no 15A tahun 2003 yakni di frekuensi FM 107,7 Mhz; 107,8 Mhz; 107,9 Mhz, dengan jangkauan yang terbatas yaitu power maskimal 50 watt dan jangkauan layanan maksimal 2,5 km.
Minimnya Partisipasi Komunitas
Berkembangnya radio komunitas bak jamur di musim hujan. Yang sangat terlihat jelas adalah banyaknya keinginan dari pihak luar untuk mendorong agar komunitasnya tertarik untuk memiliki radio komunitas. Banyak juga yang kemudian terjebak pada soal “keinginan” untuk mengangkat agendanya sendiri ketimbang memfasilitasi dan mendorong komunitasnya agar dapat mewujudkan radio komunitas.
[