Rabu, 29 Juli 2009

JOGER singgahan para turis

Joger adalah sebuah pabrik dan toko baju di Bali yang bertuliskan kata-kata lucu dan nyeleneh. Mungkin bisa dikatakan mirip dengan Dagadu di Jogja. Joger sendiri merupakan sebuah singkatan. Yaitu Joseph (pemilik Joger) dan Gerard (sahabat Joseph). Menurut cerita Pak Joseph uang pemberian dari Gerard inilah yang digunakan untuk mulai merintis usahanya yang sekarang sudah berkembang pesat dan di kenal orang-orang sebagai Joger.

Joger memang ahli dalam merangkai kata-kata yang dapat membuat kita tersenyum simpul. Walaupun kadang-kadang terkesan garing. Salah satu produk aneh di Joger adalah Jam mundur yang katanya di buat khusus untuk orang-orang yang berpikiran maju. Harganya relative murah. Hanya dengan 65.000 rupiah jam dinding yang berputar terbalik dapat anda bawa pulang. Sekedar informasi, pembelian di Joger dibatasi hanya sampai 12 pcs saja.

Begitu masuk di area parker Joger kita akan menemukan sebuah tembok hijau bertuliskan “ INI TEMBOK JOGER BUKAN TEMBOK BERLIN”. Yah rasanya kurang lengkap jalan-jalan ke Bali tanpa Singgah di Joger.

Sejarah singkat tentang nama joger

Dulu (sebelum 1981) kata atau gabungan dari lima huruf J+O+G+E+R memang belum pernah ada atau setidak-tidaknya belum pernah kita lihat maupun dengar dipakai di mana pun, kapan pun maupun oleh siapa pun juga, tapi pada akhir tahun 1980, ketika kami merencanakan untuk memiliki sebuah nama bagi toko kecil kami yang waktu itu akan kami buka di Jl. Sulawesi 37, Denpasar (tepat di depan Pasar Badung - Pasar Tradisional terbesar di Bali), oleh pihak Kantor Perdagangan, kami diminta dan bahkan diwajibkan untuk memiliki sebuah nama bagi toko kami, agar toko kami bisa dibedakan dengan toko-toko orang lain yang tentu saja juga atau bahkan sudah punya nama, seperti Toko Sinar Mas, Toko Merdeka, Toko Jaya Abadi, Toko Murah, Toko Sederhana dan lain-lainnya, tapi kami/saya (Joseph Theodorus Wulianadi) yang terlahir pada pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1951 (di atas sebuah tempat tidur) di kota Denpasar (ibu kota Bali) yang tampaknya sudah terbiasa untuk bersikap "lain daripada yang lain" (suka nyleneh) waktu itu seperti biasa atau secara alami, subyektif, otonom (merdeka) dan wajar menolak untuk menamai toko kami dengan nama yang umum atau apalagi yang berbau "public domain"

Dari seperti yang juga biasa saya lakukan, waktu itu pun saya (untuk beberapa hari) memutar otak (berpikir/berdebat dengan diri saya sendiri), merenung dan bermeditasi untuk mengotak-atik beberapa huruf maupun kata untuk diolah menjadi sebuah nama yang minimal harus benar-benar uniek. Dan waktu itu bukanlah hanya sekedar kebetulan kalau kami/saya memilih lima huruf berbunyi JOGER untuk menamakan toko kami yang akan kami buka dan waktu itu sedang kami urus izin dagangnya, karena gabungan lima huruf berbunyi JOGER itu memang sengaja kami buat bukan hanya karena benar-benar lain daripada yang lain, melainkan juga karena nama/istilah/bunyi.

JOGER itu adalah juga merupakan sebuahitikad/niat/hasrat/tujuan/maksud yang murni muncul dan keluar dari lubuk hatikami yang terdalam untuk mengenang dan/atau menghargai kebaikan Mr. Gerhard Seeger mantan teman sekolah saya dulu (di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, tahun 1970-an) yang telah menghibahkan dana segar sebesar US $ 20.000 sebagai hadiah pernikahan kami (saya dan istri saya tercinta Ery Kusdarijati), di mana nama JOGER (huruf E-nya dibaca seperti "E" dalam menyebut "ENAK" atau "EKONOMI") itu adalah merupakan penggabungan antara 2 huruf nama depan saya JOseph Theodorus Wulianadi dengan 3 huruf nama depan teman kami Mr. GERhard Seeger, di mana di samping memang benar-benar berbunyi baru (murni hasil inovasi kami/bukan public domain), berbeda dan uniek, ternyata nama JOGER ini memang mudah diingat, enak didengar, barbau jantan dan kami juga memang benar-benar suka pada nama dan bunyi JOGER tersebut.

Lalu mulai tanggal 19 Januari 1981 (hari lahir JOGER), nama JOGER itupun secara praktis, de facto dan benar-benar terbuka (di forum publicum) kami pakai untuk menamakan toko kami yang pertama tersebut, karena waktu itu di samping mencantumkannya dalam izin dagang kami, nama JOGER juga sudah langsung kami cantumkan pada papan nama toko kami yang waktu itu (maaf!) masih perlu dan masih boleh berbunyi & berbau kebarat-baratan, yaitu "ART & BATIK SHOP JOGER" yang kami pajang di bagian depan atas toko kami. Dan sejak itu pulalah sebenarnya nama JOGER murni merupakan hasil rekayasa atau ciptaan saya/kami tersebut mulai kami pakai, jaga, pelihara serta tumbuh kembangkan nilai-nilai moral, nilai-nilai social, ekonomi maupun spiritualnya dalam kiprah kami sebagai "pengusaha yang seniman" atau "seniman yang pengusaha" justru dengan senantiasa bersikap BAJU2RA5BER alias bersikap BAik, JUjur, RAmah, RAjin, BERtanggung jawab, BERani, BERinisiatif, BERsyukur dan sehingga kami pun bisa benar-benar BERmanfaat bukan hanya bagi diri atau toko kami secara sempit saja, melainkan juga bermanfaat bagi para stakeholder (sesama) maupun bagi lingkungan hidup yang konon sama-sama kita cintai serta dambakan kelestariannya secara wajar (adil & beradab) dan berkesinambungan.

Demikianlah, dulu sebelum 19 Januari 1981 sama sekali belum pernah ada pihak lain yang melihat, mendengar, memakai, tertarik, perduli, menjaga, memelihara serta menumbuhkembangkan nama JOGER sampai boleh dan bisa menjadi sebuah nama besar dan harum yang bahkan sering kali dianggap identik dengan T Shirt - T Shirt atau kaus-kaus (kaos-kaos) maupun souvenir-souvenir dengan disain kata-kata uniek/khas karya Mr. Joger yang walaupun sebenarnya sudah punya kemampuan, peluang maupun permintaan pasar yang sangat besar untuk membuka cabang atau mengembangkan sayap ke mana-mana, tapi karena merasa dan sadar bahwa kami bukanlah pohon yang harus bercabang-cabang dan juga bukan burung yang harus mengembangkan sayap kesana ke mari, maka sejak tanggal 7 Juli 1987 (777), di samping memutuskan untuk punya hanya satu toko yang terletak di Jl. Raya Kuta (sejak dulu memang tanpa nomer), Kuta, Bali ini saja, kami juga secara tegas membatasi pembelian kaus-kaus (T Shirt) JOGER, dan juga secara tegas melarang penjualan semua produk bermerek dagang, bercap JOGER dan bertanda tangan JOGER untuk diperjualbelikan sebagai komoditi biasa di luar satu-satunya gerai kami yang sejak 1990 sudah kami sebut sebagai Pabrik Kata-Kata JOGER, (Jl. Raya Kuta, Kuta, Bali). Terima kasih atas perhatian serta simpati Anda pada JOGER yang kecil dan jelek, tapi sehat dan tidak jahat ini

Keberadaan Joger di Kuta tidak hanya membuat senang para pengunjung dan joger mania saja, tapi ada juga pihak lain yang ikut senang. Ya, siapa lagi kalau bukan pedagang yang berada di sekitar Joger.

Kemarin team ekuta lagi jalan-jalan di seputaran joger. Pemandangan yang cukup menarik adalah ketika melihat anak-anak yang mungkin seusia anak-anak SMA berjalan cukup jauh, kira-kira lebih dari 500 meteran menuju Joger. Mungkin mereka menaiki bus yang notabene Kuta adalah daerah bebas bus, karena jalan tidak memadai dan juga macet. Wah, sampai sebegitunya mereka ngefans ama kaos-kaos Joger.

Di sekitar Joger ada beberapa toko oleh-oleh yang menjual kerajinan Bali, makanan khas Bali, tempat makan dan sebagainya. Secara tidak langsung, karena lokasinya bersebelahan dan lainnya berseberangan jalan saja, mereka ikut juga menikmati luapan pengunjung Joger Kalau dalam istilah marketing ada istilah “Zero marketing budget”. Tidak perlu capek-capek promosi usaha, kan sudah dapat pengunjung gratis karena efek ramainya pengunjung “tetangga”

Joger oh Joger..memang telah menjadi legenda. Katanya kalau belum punya T-shirt Joger, berarti belum pernah ke Bali. Sama seperti orang bule, kalau belum kulit menghitam, katanya belum dapat liburan ke Bali. Team ini ikut senang juga Joger bisa memberi manfaat buat yang lain. Oh ya, untuk bisnis, trik ini bisa dipraktikkan juga.

Jogger pindah kantor

Joger memang ngetop dan saking ngetopnya, kawasan dimana Joger berlokasi selalu disesaki para penggemar kaos kata-kata produksi Joger. Namun satu hal yang membuat suasana kurang nyaman adalah, masalah klasik, parking area alias tempat parkir.

Karena Joger, hampir tiap hari kawasan ini menjadi macet, apalagi di musim liburan, tambah parah macetnya. Joger untung, yang lain buntung. Joger memang untung, tapi pengguna jalan alias masyarakat umumpun harus “menikmati” suasana merayap dengan kendaraannya ketika melewati jalan ini.

Haruskah Joger pindah kantor ke lokasi yang jauh lebih nyaman untuk pengunjung dan pengguna jalan? Atau mungkin Joger sebaiknya punya kawasan parking area yang bisa menampung kendaraan pengunjungnya. Terserah, opsi mana yang lebih bagus.Yang penting sama-sama untung, tidak ada yang buntung.

Pabrik kata-kata

Kalau anda sudah pernah ke Bali, tapi belum pernah ke tempat yang terkenal ini. Berarti ada yang belum lengkap dengan jalan-jalan anda di Bali. Ya, Joger kini telah menjadi pilihan banyak wisatawan lokal yang sedang berlibur di pulau cantik ini.

Joger : pabrik kata-kata. Tidak salah memang banyak orang menyebutnya begitu. T-shirt yang diproduksi Joger memang berisi kata-kata yang lucu, “nyeleneh”, nakal dan membuat orang menjadi penasaran akan maknanya

Kenapa namanya Joger sih? Menurut pemiliknya, Joseph Theodorus Wulianadi, yang cukup lama tinggal di Bali dan pernah berprofesi sebagai tour guide ini, nama Joger diambil dari gabungan namanya sendiri dan sahabatnya “Gerard”. Modal untuk memulai usaha ini didapat dari hadiah pernikahan Bapak Joseph di tahun 1981 dari Bapak Gerard

Kini tiap musim liburan atau ngga, toko T-shirt yang satu ini selalu ramai dan bikin macet kawasan jalan Raya Kuta, belakang Supernova. Oh ya letaknya itu sangat strategis dekat dengan pusat keramaian Kuta, cuma kadang-kadang masalahnya parkir mobil yang susah, apalagi kalau musim liburan.

So, tertarik untuk membawa pulang oleh-oleh dari Joger? Jangan lewatkan jalan-jalan anda di Bali tanpa ke Joger.

Kampoeng bali: belanja oleh-oleh di kuta

Jika Anda yang hobby banget belanja oleh-oleh mulai dari makanan hingga pernak-pernik dari Bali, mungkin sudah pernah mendengar Erlangga atau Krishna Bali yang berlokasi di Denpasar Daripada macet atau juga mesti jauh-jauh ke Denpasar, kini di Kuta sudah hadir pusat belanja oleh-oleh Bali yang namanya “Kampung Bali”.

Lokasinya ada di dekat Bali Bakery dan juga hypermarket Papaya, tepatnya di jalan Mertanadi. Kalau Anda yang jalan-jalan pakai driver, cukup sebut nama Kampung Bali pasti semuanya sudah tahu. Sementara yang nyetir sendiri dan nyoba cari sendiri, patokan untuk mencari adalah Bali Bakery atau Kuta Galeria. Tempatnya sudah dekat situ, jadi kemudian tinggal tanya sama orang-orang, pasti akhirnya ketemu. Koleksi oleh-oleh di sini cukup lengkap pokoknya, seperti one stop shopping untuk berburu oleh-oleh dari Bali buat keluarga atau sahabat. Jadi kalau Anda yang mau nyari tempat belanja oleh-oleh Bali di Kuta, joger tempatnya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong di isi