Rabu, 28 Oktober 2009

analisa Sitkom "SSTI" menggunakan feminisme liberal

STUDI KOMUNIKASI GENDER


Dalam dunia komunikasi juga mempelajari tentang Studi Komunikasi Gender, ada beberapa bidang dalam Sudi Komunikasi Gender yang salah satunya yang akan saya analisa atas fenomena dalam Komunikasi Massa yaitu: Televisi. Televisi juga mempunyai arti yang sangat luas dan acara televisi saat ini pun sangat beragam, mulai dari sinetron, sinetron-komedi ( sitkom ), reality show, kuis, Infotainment gosip artis, berita dll. Saya memilih menganalisa tentang Sitkom yang akhir-akhir ini sedang naik daun, Sinetron komedi “ Suami-suami Takut Istri” yang di tayangkan di Trans Tv. Saya akan membatasi masalah yang akan saya analisa dalam fenomena tersebut dengan menggunakan salah satu pendekatan dalam Studi Komunikasi Gender, Feminisme Liberal. Disini saya akan menganalisa tayangan “Suami-suami Takut Istri” dengan menggunakan pendekatan feminisme liberal.

► Feminisme Liberal
Feminisme liberal, feminis ini lebih memberikan kebebasan dan hak kepada setiap wanita, yang pada intinya status, fungsi, dan peran antara laki-laki dan perempuan itu sama. Kemudian di dalam literatur tentang Studi Komunikasi Gender tentang feminisme liberal disebutkan bahwa hakikat perempuan adalah hidup seperti laki-laki dengan rasio dan otonomi tubuh.
Pendapat lain tentang Feminisme Liberal adalah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai "Feminisme Kekuatan" yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.
Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkan wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.
Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar prempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. Dalam konteks Indonesia, reformasi hukum yang berprerspektif keadilan melalui desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari pengalaman feminis liberal.

► Sitkom “ Suami-suami Takut Istri”
Suami-suami Takut Istri adalah sitkom yang ditayangkan di Trans TV setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00 WIB sejak 15 Oktober 2007. Serial ini digarap oleh rumah produksi Multivision Plus di bawah arahan sutradara Sofyan De Surza. Komedi Situasi Suami-suami Takut Istri mengangkat fenomena suami-suami yang tinggal di suatu area perumahan. Mereka semua memiliki kesamaan yaitu berada di bawah dominasi istri-istri mereka. Perasaan “senasib sepenanggungan” ini tumbuh makin kuat, sehingga mereka membentuk aliansi tidak resmi bagi suami-suami yang takut istri ini. Mereka saling mendukung dan mencela, saling menguatkan agar tidak lagi mau ditindas, walaupun seringkali sang pemberi nasihat justru masih takut istri juga. Para istri di komplek perumahan tersebut juga membentuk perkumpulan yang sama. Mereka saling memberi dukungan agar tidak kehilangan kendali atas suami-suami mereka.
Pemeran
* Otis Pamutih sebagai Sarmili (Pak RT)
* Aty Fathiyah sebagai Sarmila (Bu RT)
* Marissa sebagai Sarmilila ( Anak Sarmili / Sarmila)
* Irfan Penyok sebagai Karyo ( Suami Sheila)
* Putty Noor sebagai Sheila
* Yanda Djaitov sebagai Tigor
* Asri Pramawati sebagai Welas
* Ozol sebagai Faisal
* Melvy Noviza sebagai Deswita
* Desi Novitasari sebagai Pretty
* Epy Kusnandar sebagai Dadang (Satpam Perumahan ke-1)
* Adi Irwandi sebagai Garry
* Ki Daus sebagai dirinya sendiri (Satpam Perumahan ke-2)

Sinetron komedi SSTI menjadi favorit akhir-akhir ini. Ceritanya konyol tapi cukup menghibur dan bisa melepaskan stress. Cerita yang bersetting suasana sebuah kompleks perumahan ini berkisah tentang suami-suami yang takut sama istri mereka, bahkan kadang cenderung sikap istrinya sangat tega, dan seringkali menindas suami serta uniknya pasangan-pasangan tersebut berasal dari berbagai etnik di Indonesia. Misalnya pasangan Pak RT dan istrinya yang berasal dari Betawi, pasangan Uda Faisal dan istrinya yang berasal dari Sumatera Barat, pasangan Karyo dan istrinya yang artis “nggak” laku berasal dari Jawa dan pasangan Bang Tigor yang berasal dari batak tapi istrinya “wong” solo bernama Welas yang kontras sekali dengan sangarnya Tigor. Semua suami-suami tersebut takut sekali sama istrinya, namun meskipun istrinya kejam-kejam dan galak-galak tapi groups suami-suami ini juga bandel-bandel dan nekat-nekat yang selalu mengoda si janda bahenol bernama Mbak Prety.
Latar belakangnya yaitu, untuk kasus Pak RT, Uda Faisal dan Karyo tak lepas dari faktor ekonomi, yaitu Pak RT tukang ojek yang menikahi bu RT yang cukup kaya, Uda Faisal penulis kere yang menikahi Deswita yang punya banyak usaha dagang, dan Karyo karyawan biasa yang menikahi Sheila artis dan anak orang kaya. Hanya untuk Tigor yang sedikit lain dan unik kasus, yaitu Tigor ini punya saudara yang mati karena terjangkit penyakit AIDS gara-gara sering main perempuan, akibatnya si Tigor ini jadi trauma takut terkena AIDS dan takut bersentuhan sama perempuan lainnya kecuali istrinya, nah berhubung Tigor ini punya libido yang lumayan tinggi hal ini dimanfaatkan oleh Welas istrinya yang lemah gemulai tapi sedikit lemot ini untuk menekan Tigor, jadi kalo Tigor macam-macam alamat tidur diruang tamu dan tidak dikasih jatah sama istrinya selama sebulan. Kemudian ada satu tokoh lagi yang kontras dengan tokoh-tokoh diatas tadi, yaitu Dadang. Seorang Satpam di kompleks tersebut. Meskipun satpam tapi hebatnya dia punya tiga orang istri yang hidup satu rumah sama dia dan patuh lagi sama dia.




► Analisa “Suami-suami Takut Istri” dengan menggunakan pendekatan Feminisme Liberal
Dalam sitkom SSTI ( suami-suami takut istri) jika di analisa menggunakan pendekatan feminis liberal akan banyak sekali kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang di gambarkan dalam SSTI ini. Saya akan menjabarkan dalam poin dibawah ini, analisa SSTI dengan menggunakan pendekatan Feminisme Liberal:
Feminis dalam sitkom ini digambarkan pada mbak prety seorang janda kembang yang selalu digoda oleh suami-suami yang bandel ( Pak RT, uda Faizal, Karyo dan Bang Tigor). Hal ini digambarkan bahwa wanita selalu ter opresi oleh kaum lelaki. Dalam feminisme Liberal perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki kemudian perempuan berusaha untuk melakukan apapun dan mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki. Dalam sitkom ini para Istri-istri yang juga jahat dan tega kepada suaminya juga melakukan ini, mereka tidak lagi disuruh-suruh oleh suaminya, dan mereka tidak pernah memperlakukan suaminya layaknya seorang suami, misalnya: melayani membuatkan kopi, menghibur mereka dikala pulang kerja, memijit, ataupun bersikap lembut kepada suaminya, hal ini sangat jarang sekali dilakukan kepada suami-suami mereka. Perempuan di Sitkom ini adalah perempuan yang tidak mau tertindas, dengan kata lain mereka tidak mau di bodoh-bodohi suami mereka yang sedikit ataupun malah seringkali ganjen kepada wanita-wanita di Griya Mintari kompleks mereka tinggal. Perempuan di SSTI ini seringkali malah menindas suaminya, mereka tidak mau kalah dengan sang suami. Mereka ingin menang sendiri, dan mereka yakin bisa melakukan semuanya tanpa bantuan suami-suami mereka. Mereka pula yang mengatur keuangan rumah tangga. Feminis Liberal disini mulai muncul pada sang Istri. Sang istri merasa status, peran dan fungsinya sama dengan sang suami.
Sang istri tidak mau diatur oleh sang suami, disini peran sang istri lebih galak, seperti yang disebutkan dalam feminism Liberal, pendapat Naomi Wolf yang menyebutkan bahwa Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki. Di sitkom ini para istri lebih banyak mengatur suaminya, seakan-akan merekalah yang mempunyai hak kuasa atas suami dan rumah tangga mereka. Sang istri juga selalu menuntut perasaan haknya dan para istri di SSTI bebas berkehendak tanpa bergantung pada lelakinya. Apapun akan dilakukan sang istri demi kepuasan mereka. Peran mbak pretty di Sitkom Suami-Suami takut istri disini juga menggambarkan bahwa wanita bisa tanpa laki-laki, mbak Pretty dalam tokohnya dia bias bekerja dan menghidupi dirinya tanpa suami. Mbak pretty adalah janda muda/ janda kembang yang menjadi bunga kompleks Griya Mintari. Tokoh



















DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2000.
WIKIPEDIA,Jakarta, 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tolong di isi